Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Turki memecat hampir 4.500 pegawai negeri sipil dalam gelombang terakhir pembersihan setelah percobaan kudeta yang gagal pada Juli lalu. Hal itu terungkap dalam sebuah dekret yang diterbitkan pemerintah Turki. Berita resmi mengungkapkan sebanyak 4.464 orang dipecat termasuk 2.585 pegawai kementerian pendidikan, 893 anggota gendarmeri (pasukan militer), dan 88 pekerja televisi pemerintah TRT. Pemecatan terhadap 330 akademisi yang menjadi anggota Higher Council for Teaching (YOK) juga dilakukan, termasuk pada pemimpin ahli hukum konstitusi Ibrahim Kaboglu.
Otoritas juga telah menahan lebih dari 41 ribu orang dan memberhentikan 100 ribu orang yang kebanyakan guru, polisi, wartawan, atau hakim setelah percobaan kudeta pada tahun lalu itu. Pada awal Januari, pemerintah mengumumkan pemecatan hampir 8.400 PNS dan pembubaran 80 asosiasi termasuk klub olahraga. Pemecatan merupakan wewenang kabinet dan tidak membutuhkan persetujuan parlemen di bawah kondisi darurat negara yang telah diperpanjang dua kali hingga 19 April nanti. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding usaha kudeta dilakukan ulama Fethullah Gulen yang kini menetap di Amerika Serikat (AS).
Kerasnya pemerintah Turki juga mengakibatkan kematian seorang anak penderita kanker otak berusia 12 tahun. Paspor anak itu dan orangtuanya ditahan petugas perbatasan Turki di Bandara Ataturk, Istanbul, yang menyebabkan mereka tidak dapat bertolak ke Kuba untuk mendapatkan pengobatan. Dari berbagai kicauan wartawan Turki Sitki Ozcan, Selasa (7/2), paspor keluarga itu ditahan karena mereka dicurigai terkait dengan pergerakan Gulen.
"Ada seorang anak, 12 tahun, punya kanker otak. Menurut dokter, umurnya tinggal 30 hari. Keluarganya tidak kehilangan harapan dan menemukan pengobatan di Kuba. Sebagai usaha terakhir, keluarga membawanya ke bandara, tapi paspor mereka ditahan termasuk milik anak itu. Mereka tidak diizinkan meninggalkan Turki untuk pengobatan," kicau Ozcan. Walaupun keluarga telah memohon kepada petugas perbatasan untuk mengizinkan anaknya saja yang pergi, permohonan tetap ditolak.
"Keluarganya memohon, 'Tolong, izinkan anak kami pergi dan mendapat perawatan'. Namun, itu tidak terjadi. Mereka tidak mengizinkan anak itu pergi," lanjutnya. Ozcan menambahkan, anak yang tidak diizinkan pergi itu semakin sakit. Pertama, sebagian wajahnya lumpuh dan kemudian mulai kehilangan penglihatannya. Dia juga mengucapkan selamat kepada pemerintah Turki yang telah menyebabkan kematian anak usia 12 tahun dengan tidak mengizinkannya berobat ke luar negeri.
"Anak yang kamu (otoritas Turki) larang untuk pergi meninggal hari ini. Furkan tidak lagi bersama kami. Banggalah!"
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved