Presiden Trump Paling tidak Populer

Independent/Ihs/X-5
07/2/2017 07:14
Presiden Trump Paling tidak Populer
(AP Photo/Jose Luis Magana)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan serangkai­an kebijakan kontroversialnya dalam dua minggu pemerintahannya, menjadi presiden baru dengan peringkat persetujuan terendah yang pernah terjadi dalam sejarah AS.

Melalui jajak pendapat internasional yang dikeluarkan CNN/ORC baru-baru ini, lebih dari setengah responden AS, yakni 53%, tidak setuju dengan cara presiden melakukan pekerjaannya. Hanya 44% responden yang memberikan dukungan.

Selain terendah, Trump menjadi satu-satunya presiden yang mendapat peringkat persetujuan negatif sejak jajak pendapat dimulai di tahap awal jabatannya di Gedung Putih.

George W Bush, yang sama seperti Trump, terpilih tanpa memenangi suara rakyat, bahkan mendapat peringkat yang lebih positif dengan 57% persetujuan dalam masa awal jabatannya.

Mantan presiden AS lainnya, Ronald Reagan, menurut jajak pendapat Gallup (1981), juga mendapat peringkat yang lebih tinggi daripada Trump dan hanya mendapat 13% penolakan.

Barack Obama menjadi presiden AS dengan peringkat persetujuan tertinggi dalam sejarah dengan 76% pada Februari setelah pelantikan dirinya. John F Kennedy meraih 72%, sedangkan Bill Clinton dan Richard Nixon meraih persetujuan 59%.

Selama dua minggu pertama masa kerja Trump, hampir tidak pernah ada periode tenang. Hampir di seluruh dunia menggelar protes menentang kebijakan presiden, terutama kebijakan yang melarang warga dari tujuh negara mayoritas muslim (Iran, Irak, Suriah, Libia, Sudan, Somalia, dan Yaman) masuk AS selama 90 hari dan menangguhkan program pengungsi untuk 120 hari.

Mayoritas responden, 53%, juga menolak larangan tersebut dan 47% lainnya memberi dukungan. Larangan itu juga terpecah di an­tara partai di AS dengan 88% Demokrat menolak dan 88% Republik mendukung.

Selanjutnya, ada 60% yang tidak setuju dengan janji Trump paling kontroversial, yakni membangun dinding perbatasan AS-Meksiko. (Independent/Ihs/X-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya