Le Pen Ikuti Jejak Trump

Thomas Harming Suwarta thomas@mediaindonesia.com
07/2/2017 04:31
Le Pen Ikuti Jejak Trump
(AFP/JEFF PACHOUD)

TIGA bulan menjelang pemilihan presiden Prancis, pemimpin Partai Sayap Kanan Marine Le Pen menggelorakan pesan France First (Prancis yang Utama) pada peluncuran kampanyenya, Minggu (5/2) waktu setempat. Pesan itu sama dengan jargon kampanye Presiden AS Donald Trump, America First. Pemimpin Front Nasional Prancis itu langsung menyo­roti soal imigrasi, globalisasi, dan fundamentalisme Islam. Dalam pidatonya di pusat Kota Lyon, Le Pen memuji Inggris yang memilih meninggalkan Uni Eropa dan mendesak Prancis untuk meniru kelompok pemilih Donald Trump yang disebutnya ‘menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama’.

Dia lalu membandingkan globalisasi dengan perbudakan. “Memproduksi menggunakan budak untuk menjualnya kepada penganggur.” Front Nasional yang di-pimpinnya berjanji, “Akan mendahulukan kepentingan lokal dalam negeri dan bukan global,” katanya yang disambut meriah sekitar 3.000 pendukungnya. “Hal yang mustahil menjadi mungkin. Sama halnya memungkinkan para presiden seperti Donald Trump, tak hanya memenangi pemilu dalam sistem yang dipersiapkan untuk mencegah orang-orang sepertinya untuk terpilih,” ungkap Le Pen

Pilihan rakyat
Sejumlah jajak pendapat beberapa bulan ini menunjukkan Le Pen bisa memenangi pemilu putaran pertama pada 23 April mendatang untuk bisa maju ke putaran selanjutnya. Namun, peluang memenangi putaran kedua pada 7 Mei masih dipertanyakan, bahkan bisa saja kalah. Tampaknya Emmanuel ­Macron, seorang bankir investasi, akan menjadi saingan terberat Le Pen dalam mengincar kursi presiden di ‘Negeri Menara Eiffel’. Le Pen, yang menyadari ketatnya persaingan dia dengan Emanuel Macron, mengatakan kepada para pendukungnya bahwa dia ber-hadapan dengan tokoh sayap kanan berduit dan sayap kiri berduit. “Hanya saya satu-satunya kandidat pilihan rakyat,” serunya.

Dia juga menyinggung kandidat konservatif Francois Fillon yang terganjal skandal Istri Fillon dituding menerima gaji ratusan ribu euro sebagai asistennya di parlemen meski sesungguhnya tidak pernah bekerja di sana. Le Pen kemudian menyoroti insiden penyerangan berbau agama terhadap seke­lompok tentara di Museum Louvre, ­akhir pekan lalu, yang membuat publik memberi perhatian kepada Le Pen terutama karena isu yang diangkatnya terkait dengan bidang keamanan, Islam, dan imigrasi.

“Kami tidak mau warga Prancis terbiasa hidup dengan terorisme,” ujarnya. Dia juga berjanji akan meningkatkan anggaran pada bidang hukum dan ketertiban. Sebelumnya, di Lyon, Le Pen pernah membandingkan warga muslim yang beribadah di jalanan dengan okupasi Nazi. Kini, dia mengatakan, “Kami tidak ingin hidup di bawah tirani fundamentalisme.” Dia berjanji tidak akan menoleransi setiap tindakan kriminal dengan mewacanakan perekrutan 15 ribu personel kepolisian tambahan yang difokuskan ke kota-kota suburban Prancis. Terkait dengan itu, Le Pen juga mengatakan bahwa orang-orang asing yang melakukan tindak kejahatan akan langsung diusir dari Prancis. Termasuk soal Uni Eropa, ia ingin ‘melepaskan Prancis dari tirani’ Brussels. Jika organisasi tersebut menolak reformasi besar-besaran, dia berjanji akan melaksanakan referendum soal keanggotaan negaranya dalam rentang waktu enam bulan setelah dirinya menjabat. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya