AI Kecam Aksi Polisi Filipina

(AFP/Ire/I-1)
02/2/2017 03:20
AI Kecam Aksi Polisi Filipina
()

AMNESTI Internasional (AI) menuduh polisi Filipina secara sistematis merencanakan pembunuhan di luar hukum dalam perang melawan narkoba. Laporan kelompok hak asasi manusia itu juga menyebut bahwa pembunuhan itu termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Sedikitnya 6.500 orang tewas sejak Presiden Filipina Rodrigo Duterte meluncurkan perang terhadap narkoba pada Juli tahun lalu.

Dari jumlah itu, sekitar 4.000 orang ditembak mati tanpa diketahui pelakunya. Mantan Wali Kota Davao itu terus menyeru kepada polisi untuk membunuh para pengguna dan pedagang obat bius. Dalam laporan kemarin, AI menyebutkan polisi Filipina melakukan tindak pembunuh-an tanpa peradilan secara luas dengan sasaran warga miskin. Laporan itu dibuat setelah AI melakukan penyelidikan mendalam terhadap perang melawan narkoba tersebut.

"Penyelidikan kami menunjukkan gelombang pembunuhan tanpa peradilan ini telah meluas, sengaja, dan sistemis, dan karena itu bisa menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan," ungkap Rawya Rageh, penasihat krisis senior lembaga yang berbasis di London, Inggris, itu. Di antara kejahatan yang dituduhkan AI ialah polisi Filipina menembak mati orang-orang yang tidak melawan, mengarang bukti, membayar para pembunuh untuk membunuh pecandu obat bius, dan mencuri dari orang-orang yang mereka bunuh atau dari keluarga mereka.

AI juga mengatakan polisi dibayar atasan mereka untuk membunuh dan mendokumentasikan korban, bahkan ada yang baru berusia delapan tahun. "Polisi telah berperilaku seperti penjahat bawah tanah yang semestinya mereka berantas," kata lembaga itu. Sebagian besar yang tewas tergolong miskin dan dalam daftar pengawasan narkoba yang disiapkan pejabat pemerintah dan polisi.

Namun, daftar itu 'sangat bermasalah' dan isinya dipenuhi nama-nama berdasarkan desas-desus atau rumor masyarakat atau persaingan, dengan sedikit atau tanpa verifikasi. Laporan kelompok HAM berdasarkan atas pernyataan 110 orang yang terdiri atas saksi pembunuhan, kerabat korban, pengguna narkoba, polisi, anggota pemerintah, masyarakat sipil, dan kelompok agama.

Duterte dikritik keras atas itu semua dan diminta meng-akui penembakan pengusaha asal Korea Selatan merupakan perbuatan korup polisi. Menteri Kehakiman Filipina Vitaliano Aguirre kemarin menepis tuduhan pembunuhan ribuan tersangka narkoba oleh polisi masuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dia juga menyatakan penjahat bukan manusia. "Para penjahat, bandar narkoba dan obat bius, mereka tidak berperikemanusiaan," katanya mengomentari laporan AI seperti dikutip BBC. "Dengan kata lain, bagaimana bisa ketika perang dengan orang-orang narkoba, pecandu narkoba dan obat bius, Anda menganggap mereka manusia? Aku tidak," tegasnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya
Kolom Pakar
BenihBaik