Kehidupan Kota Aleppo Mulai Menggeliat

(BBC/Indah Hoesin/I-3)
25/1/2017 04:55
Kehidupan Kota Aleppo Mulai Menggeliat
((AP Photo, File))

SEBELUM konflik melanda Suriah, wilayah Aleppo Timur dikenal sebagai salah satu daerah yang indah dan nyaman untuk dihuni. Tak pelak lagi, warga sekitarnya kerap mengatakan, “Tidak ada tempat senyaman rumah sendiri.” Kini cerita indah tinggal kenangan. Kisah duka menjadi keseharian yang dialami warga di Aleppo Timur. Aliran listrik dan pasokan air bersih menjadi barang yang sangat langka dan sulit diakses. Kota yang semula berhias deretan gedung tinggal bersisa puing-puing. Reruntuhan deretan gedung yang hancur dihantam roket pasukan pemerintah telah membuat Aleppo bak kota hantu.

Jalanan beraspal mulus tidak lagi bersisa. Di sisi kiri dan kanan jalanan, hanya pemandangan puing-puing dari gedung-gedung yang telah rata dengan tanah. Kondisi gedung-gedung itu menjadi bukti bahwa kota tersebut pernah dibombadir roket, bom berat yang dijatuhkan dari udara oleh pasukan pemerintah. Kini sudah sebulan berlalu, puluhan buldoser di-kerahkan untuk membersihkan jalanan Kota Aleppo. Badan kemanusiaan yang datang ke kota tersebut menyediakan tangki air.

Sejak upaya rehabilitasi dilakukan, kota yang semula ‘mati suri’ itu secara perlahan-lahan mulai menggeliat. Tanda-tanda kehidupan mulai kentara. Ribuan warga yang semula meninggalkan Aleppo pun semakin bersemangat untuk pulang kampung. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar 40 ribu warga akan memutuskan kembali ke Aleppo. Tak mengherankan jika setiap hari terjadi peningkatan jumlah penduduk.

Sebagian warga memilih tinggal di tempat tinggal lama mereka. Namun, sebagian warga yang rumah mereka telah luluh lantak memilih gedung-gedung kosong. Sekembalinya ke kampung halaman, warga Aleppo tetap berharap masa depan yang lebih baik. Apalagi mereka tidak bisa melupakan kenangan indah ataupun buruk di Aleppo. “Tidak ada yang lebih baik atau lebih indah dari rumah sendiri. Ini adalah tempat untuk waktu yang baik atau buruk,” ujar Abu Hussein, 50, pengungsi yang baru kembali ke apartemennya. (BBC/Indah Hoesin/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya