Tembok tidak akan Hentikan Kami!

(AFP/Basuki Eka Purnama/I-1)
21/1/2017 08:00
Tembok tidak akan Hentikan Kami!
(AFP / ALFREDO ESTRELLA)

DONALD Trump telah berjanji akan membuat Amerika Serikat menjadi sebuah benteng bagi imigrasi dengan membangun tembok di perbatasan selatan negara itu. Namun, sekelompok migran asal Honduras yang dideportasi dari Meksiko berjanji, "Tembok apa pun yang dia (Trump) bangun, kami akan berusaha melewatinya." Itu merupakan janji Lizbeth Paredes, bocah berusia 13 tahun yang dipulangkan ke negaranya bersama puluhan orang lainnya setelah gagal melintasi perbatasan AS dan Meksiko. Pelajar kelas delapan itu meninggalkan Honduras pada Januari lalu bersama ibunya Gloria, 38, dan dua sepupunya yang berusia 10 dan 12 tahun.

Keluarga itu berharap bisa masuk ke wilayah AS sebelum Trump berkuasa. Hal itu disebabkan taipan itu berjanji untuk membangun tembok sepanjang 3.200 kilometer di perbatasan antara 'Negeri Paman Sam' itu dan Meksiko. Namun, keempat anggota keluarga Paredes itu tertangkap oleh petugas imigrasi Meksiko saat menumpang sebuah truk di Negara Bagian Tabasco. Mereka kemudian dipulangkan. Mereka bagian dari 88 orang dewasa dan anak-anak yang tiba di kota kedua terbesar Honduras, San Pedro Sula, setelah dipulangkan dari Meksiko, Rabu (18/1).

Meski kali ini gagal, Lizbeth mengungkapkan tekadnya untuk kembali mencoba memasuki AS hingga berhasil. Lizbeth dengan wajah semringah kemudian mengangkat tas ranselnya dan bergabung dengan keluarganya memasuki gedung pusat penampungan imigran. Diperkirakan, setiap tahunnya, sekitar 80 ribu hingga 100 ribu warga Honduras berusaha memasuki wilayah AS. Ratusan orang meninggal dalam upaya mereka, mayoritas karena kelaparan di gurun Meksiko atau dibunuh geng bersenjata.

Warga Honduras itu melakukan aksi mereka karena minimnya lapangan pekerjaan, melarikan diri dari ancaman geng, atau berusaha berkumpul kembali dengan anggota keluarga mereka. Lebih dari 1 juta warga Honduras tinggal di AS, mayoritas secara ilegal. Mereka merupakan sumber pemasukan vital bagi negara mereka. Pasalnya, imigran ilegal asal Honduras itu mengirimkan uang sebesar US$4 miliar (Rp53,6 triliun) per tahun, hampir 20% dari gross national product (GDP) negara itu.

Dari 8,7 juta warga Honduras, nyaris tujuh dari 10 orang tinggal di bawah garis kemiskinan. Negara itu juga memiliki tingkat kekerasan tertinggi di dunia, dengan angka pembunuhan sebesar 60 per 100 ribu penduduk. Jumlah itu lebih dari enam kali angka rata-rata dunia berdasarkan data WHO. Gelombang imigran anak-anak yang berusaha masuk AS menarik perhatian internasional pada 2014 ketika lebih dari 60 ribu anak dari Segitiga Utara Amerika Latin--Honduras, Guatemala, dan El Salvador--berada di perbatasan AS. Meksiko, tahun lalu, mendeportasi 10.028 anak Honduras, mayoritas berusaha masuk AS tanpa didampingi orangtua mereka.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya