Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH pakar mengatakan sebAgai negara adidaya yang mengukuhkan diri sebagai 'polisi dunia', pemerintah baru Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump dipercaya akan menjadi tantang ANbesar bagi stabilitas kawasan Asia dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Trump, politikus kontroversial dari Partai Republik yang menang Pemilu 2016 lalu dilantik sebagai presiden AS ke-45 pada 20 Januari.
Guru besar hukum internasional dari Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menyatakan, sebelum Trump resmi dilantik siapapun akan sulit untuk menjabarkan spekulasi-spekulasi secara lebih baik mengenai pengaruh kepresidenan Trump terhadap dunia, khususnya Indonesia dan ASEAN.
Namun, Hikmahanto berpendapat yang patut menjadi perhatian Indonesia adalah jika Presiden terpilih AS itu mengimplementasikan janji-janji kampanyenya, dan sejauh mana pendirian birokrasi 'Negeri Paman Sam'.
"Segera setelah Trump dilantik, kita patut memantau apakah birokrasi AS cukup kuat. Karena seperti yang saya mengerti bahwa di AS politisi bisa datang dan pergi, tetapi birokrasi tetap," kata Hikmahanto dalam sebuah diskusi di The Habibie Center, Kamis (19/1).
Kalau birokrasi AS bisa teguh menjaga nilai-nilai AS mengenai isu-isu hak asasi, kebebasan sipil, demokrasi, dan keseimbangan antarkekuatan, masyarakat tidak akan menganggap sebagai masalah dan negara itu tidak akan berubah (status quo).
"Tapi masalahnya jika birokrasi AS bisa didikte oleh Trump dan pemerintahannya, akan menjadi masalah dan dunia akan mencari keseimbangan baru," ujar Hikmahanto.
Menurutnya, jika Trump menegakkan janji-janji kampanyenya terkait isu-isu minoritas, migran, dan islmafobia, langkah itu akan menjadi tantangan besar bagi Indonesia selaku negara muslim terbesar di dunia.
Sikap pemerintahan Trump dalam menanggapi langkah Israel yang berkeras memindahkan ibu kotanya dari Tel Aviv ke Jerusalem juga akan menjadi tantangan besar untuk Jakarta karena sudah pasti mencuatkan kecaman dan kemarahan di Tanah Air.
"Di alam demokrasi seperti sekrang ini, di mana pemerintah harus mendengar suara rakyat, langkah-langkah AS terkait kebijakan Israel terkait Palestina akan menyulitkan posisi pemerintah yang berkuasa," tandas Hikmahanto.
Ia mengingatkan rezim berkuasa di Indonesia perlu mengantisipasi pengaruh-pengaruh yang akan timbul setelah Trump resmi berkuasa dan Jakarta tidak boleh memiliki hanya satu skenario.
"Indonesia tidak boleh hanya memiliki satu senario tetapi sejumlah skenario tertentu yang harus dipersiapkan merespons situasi-situasi setelah Trump dilantik dan mulai memerintah," ujarnya.
Isu-isu lain yang perlu menjadi perhatian adalah peran AS sebagai kekuatan penyeimbang bagi Tiongkok dan sengketa Laut China Selatan. Hikmahanto berpendapat Washington perlu menjaga pendiriannya sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan Asia Pasifik dan jika fungsi itu tidak berjalan, akan memengaruhi krisis-krisis global, seperti yang terjadi di Suriah.
"Perjalanan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Jakarta, Manila, Hanoi, dan Australia adalah untuk mendiskusikan isu-isu ini, apa yang terjadi di dalam dunia ketidakpastian," kata Hikmahanto.
"Tiongkok akan tambah kuat jika AS menarik diri sebagai kekuatan penyeimbang, sementara Jepang tidak bisa berbuat banyak karena terikat dengan masa lalunya," ia menambahkan.
Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kawasan Amerika Utara dan Tengah pada Kementerian Luar Negeri RI Adam Mulawarman Tugio mengungkapkan, sejumlah kebijakan luar negeri yang akan dijalankan Trump salah satunya berkaitan dengan promosi perdagangan.
"Mengatasi masalah defisit perdagangan AS terhadap negara-negara lain merupakan salah satu prioritas yang dijanjikan Trump ketika masa kampanye," ujar Adam.
"Dalam hal hubungan bilateral Indonesia dan AS berlangsung baik dan menjaga hal positif tetap berlanjut merupakan kepentingan bersama. Dengan AS kita terlibat dalam comprehensive dan strategic patnership," sambungnya.
Tantangan bagi Indonesia dari aspek politik bahwa AS masih memainkan peran terkemuka dalam kebijakan luar negeri dunia. Adam percaya AS akan memainkan peran terdepan dalam mempromosi aturan global.
"Menurut saya salah satu implikasi AS dan Trump terhadap kawasan adalah AS akan menjaga hubungan baik dengan kekuatan-kekuatan adidaya lainnya seperti Tiongkok. Hubungan AS Dengan Tiongkok kompetitif tapi kooperatif," tandasnya.
Tantangan bagi Indonesia, ASEAN masih menjadi mitra dagang terbesar keempat bagi AS. Adam menyatakan dari segi ekonomi dan perdagangan AS dan ASEAN saling membutuhkan, begitu juga di bidang keamanan.
Masalah lain yang disorot dan diantisipasi dunia adalah keinginan Trump menghapus atau menegosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). OL-2
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved