Berkemas Sambil Menangis, Para Staf Tinggalkan Gedung Putih

Arpan Rahman
18/1/2017 20:07
Berkemas Sambil Menangis, Para Staf Tinggalkan Gedung Putih
(AP/Pablo Martinez Monsivais)

MEREKA berbaris di dekat Oval Office. Lalu menyusuri lorong menuju Ruang Kabinet. Diikuti pasangan beserta anak-anak mereka yang memakai baju bagus.

Ketika giliran mereka tiba, para staf Gedung Putih mengabadikan kenangan pribadi bersama Presiden Barack Obama: klik, sebuah foto diambil, dan mereka mendapat pelukan perpisahan dari sang bos.

Eksodus massal berlangsung pekan ini di Gedung Putih. Selagi Obama menggelar konferensi pers terakhir, Rabu (18/1), stafnya sibuk berkemas di kantor mereka. Bagi beberapa staf yang bergabung dengan tim Obama sejak dari perguruan tinggi, inilah akhir dari satu-satunya pengalaman profesional yang pernah mereka alami.

Hari terakhir pemerintahan setiap presiden AS selalu mengharukan dan penuh nostalgia. Sebab para staf menghadapi transisi untuk kembali menjadi "warga sipil" yang tidak lagi bisa merasakan roda-roda kekuasaan. Kesedihan kali ini bertambah berat untuk staf Obama yang sebagian besar khawatir dengan pemerintahan baru presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Betapa istimewanya bekerja di sana (Gedung Putih) dan itu sesuatu yang patut disyukuri," kata Nate Lowentheil, yang bekerja dalam Dewan Ekonomi Nasional di bawah Obama selama tiga tahun terakhir.

"Rasanya sulit kalau tahu pendatang berikutnya akan bekerja untuk membalikkan hal-hal yang Anda lakukan dengan kerja keras sampai waktu terakhir Anda," ujarnya seperti dikutip Associated Press, Rabu (18/1).


Ada air mata di wajah beberapa ajudan Gedung Putih, pada Selasa 17 Januari, di saat sekretaris pers Josh Earnest muncul di ruangan James S. Brady Press Briefing Room untuk konferensi pers terakhirnya.

"Sudah ke-354 kali sebagai sekretaris pers," kata Earnest. Bahkan para mantan staf telah diundang kembali buat menyaksikan penampilan terakhir Earnest di Gedung Putih, berbicara dengan wartawan.

"Aku akan merindukan ini semua," kata Earnest. "Tentu butuh waktu membiasakan diri melihat orang lain berdiri di sini melakukan pekerjaan saya."

"Atau (mungkin) tidak melakukannya," tambahnya, mengacu pada kemungkinan tim Trump akan membuat perubahan dalam masalah konferensi pers harian di Gedung Putih.

Sebelum meninggalkan kantor buat terakhir kalinya, para staf akan mengecek daftar yang melengkapi perpisahan formal dari Gedung Putih: ponsel diserahkan, komputer terkunci, dan kertas-kertas sudah diarsipkan. Langkah terakhir, para ajudan mengaku, adalah yang paling sulit: menyerahkan lencana yang menyediakan akses ke kompleks itu setiap hari.

Kamis (19/1) malam mereka semua harus pergi buat memberi jalan bagi tim Trump. (MTVN/OL-2



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya