Trump Bantah akan Temui Putin

Indah Hoesin
16/1/2017 19:38
Trump Bantah akan Temui Putin
(AP)

TIM Donald Trump dan Pemerintah Rusia membantah laporan yang menyebut Presiden Amerika Serikat terpilih itu akan melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.

Juru bicara Trump, Hope Hicks menyebut laporan yang pertama kali dimuat oleh surat kabar Inggris tersebut sebagai berita palsu.

Menurut kantor berita Rusia, RIA Novosti, Kremlin melalui juru bicara, Dmitry Peskov juga membantah dengan mengatakan belum ada diskusi terkait pertemuan tersebut.

Sebelumnya Sunday Times di London, dengan mengutip seorang pejabat Inggris yang tak disebutkan namanya, melaporkan Trump berencana memperbaiki lagi hubungan AS dengan Kremlin. Salah satu langkahnya adalah menemui Putin di Reykjavik, Islandia.

Surat kabar tersebut mengatakan pertemuan Trump-Putin akan meniru pembicaraan Reykjavik, Ronald Reagan dengan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev pada 1986 selama Perang Dingin.

Trump yang akan dilantik pada Jumat (20/1) mendatang juga dilaporkan akan mulai membahas kesepakatan pembatasan senjata nuklir sebagai bagian dari upaya untuk mengatur ulang hubungan antara dua negara.

Islandia yang disebut sebagai tempat pertemuan juga mengaku tidak mengetahui rencana tersebut namun mengindikasikan kesediaan menjadi tuan rumah pertemuan untuk membantu meningkatkan hubungan Washington dan Mowkow.

"Pemerintah Islandia belum menerima permintaan berkaitan dengan ini. Jika pejabat AS meminta Islandia untuk mengatur pertemuan di Reykjavik, kami akan melihat ini secara positif dan membuat masukan untuk meningkatkan hubungan AS-Rusia," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Islandia, Gudlaugur Thor Thordarson.

Sebelumnya Trump telah berulang kali menyatakan kekagumannya terhadap Putin dan terlambat mengakui laporan intelijen AS terkait campur tangan Rusia dalam pemilihan umum pada November lalu.

Bahkan sang presiden dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal mengisyaratkan kemungkinan AS untuk mencabut sanksi yang dikenakan pada Rusia atas tuduhan serangan cyber.

Sementara itu Kepala Badan Intelijen AS (CIA), John Brennan memperingatkan Trump untuk mengurangi sikap impulsif untuk melindungi keamanan nasional.

"Saya pikir Trump harus sangat disiplin dalam apa yang akan dia sampaikan secara terbuka, dia (Trump) dalam beberapa hari ke depan akan menjadi orang yang paling kuat di dunia, pemimpin tinggi pemerintah AS dan dia harus sadar jika kata-katanya akan memiliki dampak," ujar Brennan.

"Ini lebih dari sekedar tentang dirinya, ini tentang AS dan keamanan nasional, dia berkesempatan melakukan sesuatu untuk keamanan nasional," tambahnya.

Brennan juga mengatakan spontanitas Trump sangat berbahaya bagi kepentingan keamanan nasional AS sehingga sang presiden harus mengerti dan memahami implikasi dari setiap ucapannya. AFP/OL-2



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya