Kedekatan AS-Rusia Bisa Berbahaya

Ths/Try/X-5
13/1/2017 06:34
Kedekatan AS-Rusia Bisa Berbahaya
(AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY)

PRESIDEN terpilih AS Donald Trump kembali menyinggung kedekatannya dengan Rusia saat menggelar konferensi pers pertama kalinya pascaterpilih sebagai presiden di Trump Tower Manhattan, New York, kemarin. Meskipun mengakui Rusia berada di balik peretasan pemilu AS, Trump meyakini di bawah kepemimpinannya Rusia akan lebih respek kepada AS daripada sebelumnya.

Menurut pengamat hubung­an internasional Universitas Indonesia Hikma­hanto Juwana, bila kedekatan dua kekuatan dunia itu benar-benar terwujud, hal itu berbahaya terutama bagi negara berkembang. “Dunia tidak lagi multipolar atau bipolar tetapi menjadi unipolar, terpusat pada satu kekuatan karena negara-negara kuat ini justru bersatu,” ujarnya, kemarin.

Hikmahanto menyatakan kebijakan Trump itu melawan pakem politik tradisional AS yang selalu berseberang­an dengan Rusia. Selama ini, AS meng­anggap Rusia tidak demokratis dan cenderung totaliter.

Dia menambahkan, bagi AS, Rusia dan Tiongkok merupakan kekuatan penyeimbang dunia. “Kita pantas khawatir jika justru kekuatan besar dunia ini bersatu,” pungkasnya.

Pada kesempatan terpisah, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan Aleksius Jemadu menilai Trump akan menerapkan kebijakan nasionalis yang protektif. “Apa yang dia katakan untuk memanggil pulang ke AS semua industri AS ialah salah satu dari kebijakan Trump tersebut.”

Hal senada disampaikan analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo. Menurutnya, kebijakan ekonomi Trump masih fokus kepada urusan internal. Padahal, AS memiliki kepentingan eksternal dan mitra mereka menantikan langkah konkret Trump. (Ths/Try/X-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya