Penculikan di Perairan Meningkat

(AFP/Ths/I-4)
11/1/2017 01:00
Penculikan di Perairan Meningkat
(Philippine Coast Guard via AP)

JUMLAH kasus penculikan di wilayah perairan Filipina bagian selatan paling banyak terjadi pada 2016. Biro Maritim Internasional (IMB) merilis temuan bahwa jumlah kasus sepanjang tahun lalu merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Meskipun secara keseluruhan kasus serang­an perompak telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, IMB mengatakan sebanyak 62 orang di seluruh dunia telah diculik demi uang tebusan pada 2016 lalu.

‘Penculikan kru kapal pedagang yang melalui Laut Sulu dan pemindahan mereka ke Filipina bagian selatan menunjukkan eskalasi penting dalam serangan’, tulis IMB dalam laporan mereka. Angka tersebut memang jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jumlah 19 kasus pada 2015 dan sembilan kasus pada 2014. Temuan ini juga mendesak para pemilik kapal untuk menghindari Laut Sulu, yang terletak di antara Malaysia Timur dan Fi­lipina. Mereka disarankan memilih rute alternatif ke arah barat Pulau Borneo. Selain Laut Sulu, Teluk Guinea merupakan kawasan rawan penculikan yang menurut IMB perlu dihindari.

“Penurunan dalam pembajakan adalah berita baik, tetapi rute pengiriman (barang) tertentu tetap berbahaya. Eskalasi penculikan adalah tren yang mengkhawatirkan di beberapa daerah (seperti Filipina),” kata Direktur IMB Pottengal Mukundan. Dalam serangkaian insiden di peraian tersebut tahun lalu, kelompok bersenjata yang melakukan serangan selalu terkait dengan Abu Sayyaf.

Kepala IMB Noel Choong mengatakan, selain di Laut Sulu, kelompok tersebut melakukan penculikan di perairan Afrika Barat. Sementara itu, jumlah serangan perompak secara keseluruhan di seluruh dunia terus menurun. Dari 246 kasus pada 2015, pembajakan oleh perompak turun menjadi 191 kasus pada tahun lalu. Menurut IMB, penurunan itu tidak terlepas dari kinerja kepolisian. Sejak 2012, patroli angkatan laut internasional diluncurkan di Afrika Timur dalam mengatasi serentetan serangan kekerasan oleh pe­rompak berbasis di Somalia. (AFP/Ths/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya