Mogok demi Perbaikan Regulasi Kesehatan

03/1/2017 05:10
Mogok demi Perbaikan Regulasi Kesehatan
(AFP/PRAKASH MATHEMA)

SEORANG pria menghabiskan 22 hari berbaring di ruangan sebuah rumah sakit di Kathmandu, Nepal.

Dia bukanlah pasien yang tengah dirawat, melainkan dokter yang tengah melakukan aksi protes mogok makan.

Robin Hood dalam dunia medis, begitu dirinya kerap disebut.

Pria 60 tahun tersebut ialah ahli bedah ortopedi bernama Govinda KC.

Ini bukan aksi mogok makan pertama Govinda.

Dia telah melakukan aksi tersebut sebanyak 10 kali selama empat tahun terakhir.

Dokter yang dikenal karena kerja filantropinya itu melakukan aksi protes tersebut bertujuan menuntut pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di negara Himalaya tersebut.

"Rumah sakit dan lembaga medis, mereka tidak memiliki infrastruktur yang tepat. Mereka tidak memiliki tenaga yang memadai dan peralatan yang memadai," ujar Govinda dari tempat tidur rumah sakit.

Pada tempat tidur yang sama dengan tempatnya memulihkan diri dari aksi mogok makan sebelumnya, kini dia melanjutkan aksi baru.

Govinda bahkan siap mundur dari profesinya untuk meluncurkan aksi protes lainnya.

"Mereka tidak akan memperbaiki sektor kesehatan jika saya tidak protes," ujarnya.

Tahun lalu, dia berhasil mendesak pemerintah untuk mengesahkan UU Pelayanan Kesehatan.

Setelah serangkaian aksi yang dilakukannya, pemerintah akhirnya mengesahkan UU tersebut pada Desember.

Govinda yang kerap bepergian ke komunitas paling terpencil di Nepal untuk memberikan perawatan medis dan bahkan melatih petugas kesehatan setempat itu juga mengkritik pelatihan medis di Nepal yang juga sangat kontroversial.

Pendidikan dan pelatihan medis didominasi sekolah-sekolah swasta yang mahal tapi minim fasilitas dan menerima terlalu banyak mahasiswa setiap tahun.

"Tidak ada komersialisasi sektor pendidikan kedokteran di negara-negara maju, sedangkan di negara kami itu begitu merajalela," ujar Govinda.

Dokter yang kerap terlibat dalam zona bencana di seluruh dunia itu meminta elite politik tidak campur tangan dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat di Nepal.

Govinda tinggal di rumah dinas belakang RS tempat ia bekerja dan menghabiskan sebagian besar gajinya untuk membeli obat dan peralatan untuk kliniknya.

Dia pernah menangani korban di RS Haiti setelah gempa pada 2010 dan Filipina setelah dilanda Topan Haiyan. (Indah Hoesin/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya