Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KURANG dari tiga pekan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama akan menyerahkan tampuk pemerintahan. Tepatnya pada 20 Januari mendatang, presiden terpilih, Donald Trump, pun akan resmi menjabat presiden adidaya 'Negeri Paman Sam'. Namun, tanpa diduga, menjelang meninggalkan Oval Office di Gedung Putih, Obama mengambil langkah yang sangat mengejutkan.
Obama mengeluarkan sanksi keras terhadap negara seterunya, Rusia. Washington meminta 35 diplomat Rusia yang dicurigai terlibat aksi mata-mata untuk segera meninggalkan negara tersebut. Pengusiran para diplomat 'Negeri Beruang Merah' itu bukan tanpa dasar. Gedung Putih telah mendapat data kuat dari Badan Intelijen Amerika (CIA) dan Badan Investigasi Federal (FBI).
Maka pada Kamis (29/12), Washington mendesak 35 diplomat Rusia agar segara terbang ke Moskow dalam waktu tidak lebih dari 72 jam. Tak hanya 'mencuri' data rahasia, para peretas Rusia juga memublikasikan. Obama yang berang meyakini bahwa kekalahan Hillary Clinton dari rivalnya, Trump, dalam pemilihan presiden AS pada November lalu, tak lepas dari ulah peretas Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin yang dikenal reaktif memilih bersikap tenang. Kremlin pun langsung mengirim pesawat untuk menjemput para diplomat mereka. Juru bicara Kemenlu Rusia, Maria Zakharova, mengatakan 96 orang yang terdiri dari para diplomat dan keluarga mereka segera meninggalkan AS.
Dalam menanggapi tuduhan Obama itu, Moskow berulang kali membantahnya. Putin yang mantan anggota KGB itu juga menanggapi Obama yang jabatannya tinggal menghitung hari itu dengan 'kepala dingin'. "Kami tidak akan mengusir siapa pun (para diplomat AS)," ucap Putin dalam menanggapi ucapan Obama. Justru mantan PM Rusia dua periode itu mengatakan akan mengundang anak-anak dari diplomat AS untuk menghadiri pesta liburan di Istana Kremlin.
Sikap tak reaktif dan terkesan bijak Putin pun mendapat pujian dari karibnya, Trump. "Tindakan yang luar biasa (yang dilakukan Putin). Saya tahu dia sangat cerdas," tulis pria yang berusia 70 tahun yang siap dilantik sebagai Presiden AS tersebut dalam media sosial miliknya. Pada Sabtu (31/12) waktu Amerika, Trump kembali mendukung bantahan Putin.
Pengusaha real estate tersebut mengungkapkan keraguan para peretas Rusia terlibat aksi intelijen terhadap Clinton. "Baik, saya ingin mereka yakin karena ini masalah sangat serius dan saya ingin mereka yakin," ucap Trump kepada para wartawan di kantor megahnya di Mar-a-Lago, Florida, AS.
Ia menegaskan tidak fair kalau AS menuduh Rusia jika masih meragukan. "Dan saya tahu banyak peretasan. Dan peretasan merupakan hal yang sulit dibuktikan. Maka, bisa jadi ada orang lain. Dan saya juga tahu hal yang orang tidak tahu," papar Trump yang tak lelah membela Putin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved