Aksi Long March dari Berlin ke Aleppo

AFP/Ths/Hym/Ihs/Mal/I-2
29/12/2016 06:31
Aksi Long March dari Berlin ke Aleppo
(AFP PHOTO / dpa / Paul Zinken)

SEKITAR 400 aktivis perdamai­an dari seluruh dunia melakukan long march dari pinggiran Kota Berlin menuju Aleppo, Suriah. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk dukungan dan tekanan po­litik untuk membantu warga sipil yang kini masih terjebak dalam konflik di Suriah.

Long march itu digagas warta­wan asal Polandia dan bloger, Anna Alboth. Para peserta gerak­an Civil March for Aleppo terse­but memegang bendera putih, me­ngenakan tas gunung, dan mem­bawa perlengkapan musim dingin lainnya.

Kepada surat kabar berhaluan kiri Jerman, Tageszeitung, Alboth mengatakan long march itu di­harapkan dapat mencapai perbatasan Turki untuk selanjutnya menuju ke Kota Aleppo, Suriah.

“Tujuan sebenarnya dari pawai ini ialah bahwa warga sipil di Suriah harus mendapatkan akses bantuan kemanusiaan,” katanya. “Kami berbaris untuk memberi tekanan.”

Para peserta long march berang­kat dari Bandara Tempelhof, Berlin, pada Senin (26/12). Di sekitar bandara tersebut, terdapat penam­pungan ribuan pengungsi asal Su­riah, Irak, dan negara lainnya.

Para peserta long march berencana menempuh perjalanan sejauh 20 kilometer setiap harinya. Mereka akan berjalan dengan rute melintasi wilayah Ceko, Austria, dan beberapa negara Balkan, selanjutnya ke Turki dan kemudian ke Aleppo.

Rute dari para peserta long march itu pernah dilalui sekitar 1 juta pengungsi dari Suriah menuju negara-negara Eropa khususnya Jerman dengan jarak tempuh se­kitar 3.000 kilometer.

Alboth, pengagas Civil March for Aleppo, mengatakan dengan ak­si tersebut, mereka ingin mengetahui se­berapa penting tragedi kemanusiaan di Suriah bagi politisi Eropa. Pasalnya pejabat Eropa masih melihat krisis Suriah dengan sudut pandang politik dan melupakan sisi kemanusiaan.

Sementara itu di wilayah timur Suriah, sejumlah serangan udara dila­kukan pesawat tempur tak dikenal dan menewaskan sedikitnya 22 warga sipil, termasuk 10 anak, di sebuah desa yang dikontrol kelompok mi­litan Islamic State (IS).

Kelompok Syrian Observatory for Human Rights mengatakan korban berasal dari dua keluarga di Kota Hojna, Provinsi Deir Ezzor yang berbatasan dengan Irak.

Di sisi lain, Turki dan Rusia se­ca­ra terpisah menuduh AS mendu­kung ‘kelompok teroris’ di Suriah. Pejabat kedua negara akan bertemu untuk membahas pembicaraan damai Suriah di Kazakhstan pada bulan depan.
Pada Selasa (27/12), Presiden Tur­­ki Recep Tayyip Erdogan menga­­takan pihaknya memiliki bukti bahwa pasukan koalisi pim­pinan AS memberikan dukungan kepada IS dan kelompok Kurdi yang terdiri dari Perlindungan Rakyat (YPG) dan Partai Uni Demokratik (PYD).

“Sekarang mereka memberikan dukungan kepada kelompok teroris termasuk Daesh (IS),” ujar Erdogan di Ankara. (AFP/Ths/Hym/Ihs/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya