Berbondong-bondong Menyerbu Perbatasan

(AFP/Ihs/I-1)
27/12/2016 00:47
Berbondong-bondong Menyerbu Perbatasan
(AP/ARIANA CUBILLOS)

RIBUAN penduduk Venezuela berbondong-bondong menyeberang ke Kolombia untuk membeli makanan dan obat-obatan setelah pemerintah membuka kembali perbatasan pada Selasa (20/12). “Terima kasih Tuhan perbatasan dibuka kembali. Banyak orang datang untuk berbelanja ke sisi lain karena tidak ada makanan, popok untuk bayi dan obat-obatan di sini,” ujar Christian Sanchez, 29.

Sanchez melewati perbatasan dengan berjalan kaki. Ia melewati Jembatan Simon Bolivar yang menghubungkan Kota San Antonio, Venezuela, dan Cucuta, Kolombia. Namun, hanya pejalan kaki yang diizinkan lewat, sedangkan truk-truk yang membawa barang yang dibutuhkan penduduk masih tetap diblokade. Menurut Menteri Informasi Venezuela, Ernesto Villegas, sebelumnya pada Senin (19/12), Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos telah berbicara melalui telepon dan setuju membuka perbatasan kedua negara.

Ketika berkunjung ke Cucuta, Santos mengatakan kerja sama yang lebih baik di kedua sisi sangat diperlukan untuk menindak penyelundupan. Perbatasan dengan Kolombia dilihat sebagai sebuah kelangsungan hidup bagi penduduk Venezuela yang berjuang memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, ketika perbatasan kembali dibuka, an­trean panjang segera terbentuk di pos.

Pemerintah Venezuela juga membuka kembali sebagian perbatasan dengan Brasil setelah pembicaraan antara pejabat kedua negara di Kedutaan Brasil dan Kementerian Luar Negeri Venezuela. Perbatasan dibuka untuk para pejalan kaki dan beberapa jam tertentu untuk kendaraan. Media lokal melaporkan sekitar 200 orang Brasil yang kebanyakan wisatawan lokal tidak bisa kembali ketika Venezuela menutup perbatasan.

Maduro memerintahkan perbatasan dengan Kolombia dan Brasil ditutup pada 12 Desember lalu sebagai bagian dari reformasi mata uang termasuk dengan menarik uang kertas 100 bolivar dari peredaran. Maduro menuduh ‘mafia’ di luar negeri telah menimbun uang kertas untuk membuat krisis perekonomian di Venezuela. Presiden Venezuela tersebut juga menuding Amerika Serikat (AS) menyebabkan krisis uang tunai dengan mencampuri pemerintahannya.

“Bukankan ini kasus bahwa gringo (orang Barat) telah membeli orang penting di posisi kunci untuk merugikan orang lain? Saya pikir begitu,” ujar Maduro tanpa menyebut institusi yang menurutnya telah terpengaruh oleh asing.

Krisis
Selama akhir pekan Venezuela dilanda penjarahan. Sejumlah bentrokan terjadi akibat banyak orang tidak memiliki uang tunai. Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas dan 300 orang lainnya ditangkap. Seorang pria, wanita, dan anak rema­ja tewas tertembak ketika kekerasan meletus pada Sabtu (17/12) di Kota La Paragua, sebelah selatan Negara Bagian Bolivar. Namun, partai oposisi Gerakan Persatuan Demokratik (DUR) yang menuding Maduro telah membawa Venezuela ke jurang krisis ekonomi mengatakan jumlah korban tewas mencapai lima orang di Bolivar.

Negara Bagian Bolivar telah menjadi yang paling terpukul akibat kerusuhan yang terjadi. Bahkan, jam malam telah diberlakukan di kota tersebut dengan lebih dari 3.000 tentara berpatroli di jalanan. Kerusuhan pecah setelah Maduro menarik uang kertas 100 bolivar dari peredaran sebelum uang 500 bolivar yang akan menjadi pengganti diedarkan. Antrean panjang terjadi di bank-bank karena penduduk yang mencari uang dalam pecahan 10, 20, dan 50 bolivar.

Beatriz Cortes, 65, harus pergi ke tiga cabang bank untuk mendapatkan uang tunai. “Mereka hanya memberi saya 5.000 bolivar dan saya tidak punya makanan lagi di rumah,” ujar Cortes. Penduduk Venezuela yang putus asa tanpa uang tunai kemudian menjarah truk-truk pengiriman, membakar bank, dan bentrok dengan polisi di seluruh negeri. Maduro yang sebelumnya menyalahkan oposisi atas kerusuhan yang terjadi akhirnya berbalik arah mengatakan mata uang lama akan tetap sah hingga 2 Januari mendatang setelah mata uang baru dengan denominasi yang lebih tinggi dicetak dan diedarkan. (AFP/Ihs/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya