Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KOTA Teheran, Iran, mungkin bukan perhentian utama bagi Sinterklas dalam rutinitasnya membagi-bagikan hadiah Natal. Namun, ternyata warga Iran mencintai semangat dan sukacita Natal. Teheran juga bisa merupakan kota paling aman di Timur Tengah bagi umat Nasrani.
Di Distrik Somayeh misalnya. Selama beberapa bulan terakhir, para pemburu pernak-pernik Natal menyerbu kawasan yang dihuni mayoritas warga Armenia itu. Imitasi pohon Natal, mainan rusa, dan boneka salju plastik laku keras di pusat-pusat perbelanjaan Somayeh.
“Natal sangat menarik bagi kami. Saya menyukai dekorasinya, pohon Natal, dan pernak-pernik lainnya. Kami melihatnya sebagai bentuk toleransi bagi kepercayaan yang berbeda. Tentu saja kami menyukai semua cokelat Natal,” ujar Niloufar, seorang perempuan muslim yang tengah berbelanja bersama suaminya di distrik itu.
Hamed Davoodian, salah seorang pemilik toko kelontong di Distrik Somayeh, mengatakan komunitas Armenia di distrik itu tidak pernah mengalami masalah dengan pihak penegak hukum. Menurut dia, warga Armenian relatif hidup tenteram bersama komunitas agama lain yang tinggal di distrik.
“Kenapa harus ada masalah? Warga keturunan Armenia telah tinggal di sini selama lebih dari 400 tahun. Mereka selalu bersikap baik,” ujarnya. Menurut catatan pemerintah Iran, ribuan orang Kristen beremigrasi ke Amerika Serikat sejak Revolusi Islam pecah di Iran pada 1979. Saat ini, hanya tertinggal sekitar 120 ribu pemeluk Nasrani di Somayeh, sebagian besar warga keturunan Armenia yang memeluk Kristen ortodok, sisanya warga keturunan Assyrian pemeluk Katolik Roma.
Meskipun sempat eksodus, umat Nasrani diakui dan dilindungi pemerintah Iran lewat undang-undang yang dikeluarkan tokoh revolusi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Akan tetapi, kelompok minoritas tetap dibatasi.
Sesuai aturan, kristenisasi dianggap ilegal. Maka tidak jarang polisi merazia kitab-kitab suci berbahasa Persia. Peribadatan pun harus dijalankan dengan bahasa asli kelompok etnik di Iran.
Namun demikian, kekhawatiran akan kriminalisasi tidak menghinggapi Gereja Katolik Santo Yosep di pinggiran Teheran. Pada malam Natal, umat gereja Katolik Assyrian itu tampak menikmati misa yang berjalan damai.
Uskup Agung Ramzi Garmou mengatakan umat Nasrani yang tersisa hanya tinggal komunitas-komunitas kecil. “Namun, saya selalu mengatakan bahwa kekuatan gereja bukan pada jumlah pengikutnya, melainkan pada iman dan keyakinan yang ditunjukkan para umat dalam kehidupan sehari-hari,” ujar dia. Ia pun mengaku bersyukur Iran merupakan oasis kedamaian bagi umat Nasrani di kawasan Timur Tengah. (AFP/Nat/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved