Catatan Muram pada Malam Natal

Indah Hoesin
26/12/2016 08:31
Catatan Muram  pada Malam Natal
(Paus Fransiskus mencium patung bayi Yesus saat memimpin misa Natal di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu (24/12). -- FP PHOTO / ANDREAS SOLARO)

PARA pemimpin agama Kristen dari Vatikan hingga ke Betlehem menyampaikan catatan tentang berbagai kemuraman dunia pada misa malam Natal. Mereka berbicara mengenai perang, ketakutan, dan perpecahan seiring kota-kota di Eropa yang meningkatkan keamanan setelah serangan bazar Natal di Berlin, Jerman.

Di Vatikan, Paus Francis dalam misa malam Natalnya, mendesak 1,2 miliar umat Katolik di dunia untuk merasakan kasih sayang untuk anak-anak, terutama korban perang, pengungsi, dan tunawisma. Paus mendesak jemaat untuk memikirkan nasib anak-anak yang bersembunyi dan melarikan diri dari serangan bom, jelas mengacu pada anak-anak di Suriah.

“Mari kita membiarkan diri kita ditantang oleh anak-anak yang tidak diinginkan untuk lahir, oleh anak-anak yang menangis karena kelaparan, anak-anak yang tidak memiliki mainan di tangan mereka, melainkan senjata,” ujar Paus yang baru merayakan ulang tahun ke-80 pada minggu lalu.

Berbicara kepada 10 ribu orang yang berkumpul di St Peter’s Square pada Sabtu (24/12), Paus mengkritik materialisme dengan mendesak jemaat menghindari ketidakpedulian. “Natal menjadi sebuah pesta dengan protagonis adalah diri kita sendiri, bukan Yesus,” ujarnya.

Seperti Paus Francis, Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa dalam khotbahnya untuk sekitar 2.500 jemaah yang memadati kompleks Gereja Nativity di Bethlehem, juga meminta belas kasih bagi para pengungsi.

“Kita takut pada orang asing yang mengetuk pintu rumah kita dan di perbatasan negara kita. Menutup pintu dan membangun perbatasan didahulukan dalam pilihan personal dan politik,” ujar Uskup Pizzaballa yang juga menyerukan penghentian kekerasan di Timur Tengah itu.

“Ini merupakan metafora untuk rasa takut yang mengembangkan dinamika kekerasan saat ini,” sambungnya dalam misa yang juga dihadiri oleh Presiden Palestina, Mahmud Abbas, tersebut.

Gereja Ang­likan di Inggris melalui Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, juga menyampaikan hal senada. “Akhir tahun 2016 telah dibanjiri rasa takut dan perpecahan,” ujarnya.

Pengamanan Eropa
Kota-kota di Eropa meningkatkan pengamanan pascaserangan pasar Natal di Berlin pada Senin (19/12) lalu. Sejumlah warga dan wisatawan tampak mengunjungi lokasi kejadian dan menyalakan lilin atau meletakkan bunga sebagai penghormatan terakhir.

“Ini sangat bagus, begitu banyak orang yang datang dan pasar ini masih buka. Jadi, meskipun sangat sedih atas apa yang terjadi, kita masih bisa merayakan Natal. Tidak berarti orang gila itu menghancurkan Natal semua orang,” ujar Marianne Weile, 56, dari Kopenhagen.

Keamanan juga sangat ketat di katedral Milan. Polisi Italia mengerahkan pasukan dan barikade beton di sekitar bangunan bersejarah Piazza del Duomo tersebut. Sebanyak 91 ribu polisi dan tentara juga dikerahkan untuk menjaga ruang publik, termasuk gereja dan pasar di Perancis.
Pengetatan keamanan juga terjadi di Israel karena saat Natal bertepatan dengan festival Yahudi, Hanukkah..

Meskipun kekhawatiran keamanan melanda, momen Natal tetap dirayakan secara sukacita oleh umat Kristen di Eropa. Seperti di London, Inggris, para jemaah berkumpul di Pasar Smithfield untuk melakukan lelang Natal tradisional. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya