Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Dalam Negeri Tunisia mengatakan telah menahan keponakan pelaku teror Berlin, Anis Amri, dan dua orang lainnya yang diduga terkait dengan jaringan Amri pada Sabtu (24/12).
“Salah satu yang ditahan ialah anak dari kakak Amri dan selama penyelidikan mengaku telah melakukan kontak dengan pamannya tersebut melalui layanan pesan telegram,” ujar Kementerian Dalam Negeri dalam pernyataan resmi, kemarin.
Tiga tersangka yang berusia antara 18 hingga 27 tahun itu ditangkap karena diduga menjadi anggota dari jaringan teroris yang terhubung dengan Amri.
Kementerian Dalam Negeri Tunisia tidak memberikan penjelasan lebih rinci di mana ketiga tersangka ditangkap. Namun, mereka mengatakan bahwa jaringan teroris tersebut aktif di kawasan Fouchana, sebelah selatan Tunisia dan Queslatia, kampung halaman keluarga Amri di Tunisia tengah.
Amri diketahui telah mengirimkan uang kepada keponakannya tersebut dan mendorongnya untuk bersumpah setia kepada Kelompok Islamic State (IS). Keponakan Amri yang tidak disebutkan namanya tersebut juga mengakui kepada penyidik, ia telah menerima uang dari Amri agar dirinya bisa bergabung ke Jerman.
Menurut pernyataan tersebut, keponakan Amri menyebut pamannya ialah ‘pangeran’ atau pemimpin kelompok jihad yang berbasis di Jerman atau yang dikenal sebagai pasukan ‘Abu al-Walaa’.
Amri, 24, akhirnya ditembak mati pada Jumat (23/12) setelah terlibat baku tembak dengan polisi Italia dalam pemeriksaan identitas di stasiun kereta api Sesto San Giovanni, Milan, Italia.
Tolak teroris
Ratusan orang berkumpul di luar gedung Parlemen Tunisia pada Sabtu (24/12) untuk memprotes kembalinya para teroris yang beraksi di luar negeri ke Tunisia. Aksi protes itu dilakukan di hari yang sama ketika pemerintah mengumumkan penangkapan tiga tersangka yang diduga terkait dengan Amri.
“Tidak ada kebebasan bagi kelompok teroris!” teriak mereka. Sekitar 1.500 orang ikut berdemonstrasi. Beberapa dari mereka memegang plakat yang menyerukan ‘Keinginan politik melawan kelompok teroris’.
Mereka memprotes Rached Ghannouchi, kepala Partai Islam Ennahda yang pernah mendukung gagasan mengizinkan para teroris Tunisia yang telah bertobat dan meninggalkan kekerasan untuk kembali ke negara tersebut.
Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi, mengatakan awal bulan ini Tunisia akan menolak mengampuni penduduk Tunisia yang berjuang untuk kelompok teroris.
“Banyak dari mereka ingin kembali dan kita tidak dapat mencegah mereka kembali, tapi kita akan sangat waspada,” ujar Essebsi. Setelah menuai banyak kritikan, pada 15 Desember lalu, Essebsi juga menegaskan tidak akan memanjakan para teroris.
Menurut kelompok kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memantau tentara bayaran, lebih dari 5.000 orang Tunisia bergabung dengan kelompok teroris di luar negeri, terutama di Irak, Suriah, atau negara tetangga mereka, Libia.
Pada Jumat (23/12), Menteri Dalam Negeri Tunisia, Hedi Majdoub, mengatakan kepada parlemen bahwa 800 orang Tunisa yang bergabung dengan kelompok ekstremis di luar negeri telah kembali ke negara tersebut.
Sejak revolusi pada 2011, Tunisia telah menghadapi serangan teror yang menewaskan lebih dari 100 tentara dan polisi, 20 warga sipil, dan 59 warga asing. (AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved