Habis Topan Koppu Terbitlah Utang Petani

AFP/Donny Andhika AM/I-1
26/10/2015 00:00
Habis Topan Koppu Terbitlah Utang Petani
(AFP/TED ALJIBE)
FRANCISCO Santo Domingo, 37, pasrah saat ladang padinya hancur akibat topan Koppu yang melanda Filipina pekan lalu.

Seperti ribuan petani lainnya, Domingo terpaksa mengambil pinjaman lagi dari rentenir yang mendominasi ekonomi pertanian di Filipina meski menerapkan bunga tinggi.

"Saya meminjam uang untuk menutupi utang dan begitu seterusnya," kata Domingo sembari memandangi tanaman padi yang harusnya dipanen pekan ini.

Topan Koppu yang menghantam Filipina pekan lalu memicu banjir setinggi 3 meter ke salah satu wilayah pertanian Filipina di Pulau Luzon.

Lahan pertanian seluas 3 hektare milik Domingo berada di Santa Rosa, kota pertanian di utara Ibu Kota Manila.

Beberapa bulan lalu, Domingo berutang US$1.300 untuk membeli bibit padi, pupuk, dan peralatan.

Karena tidak ada tabungan ataupun barang untuk digadaikan ke bank, Domingo terpaksa mencari pinjaman dari rentenir.

Ia juga terpaksa menyetujui syarat yang diajukan rentenir, yakni bunga 25% per bulan.

Jika bencana topan tidak terjadi, ayah tiga anak itu berencana menjual beras dengan cepat untuk melunasi sebagian pinjaman.

Pendapatannya dari tanaman lain juga bisa digunakan untuk melunasi sisa utang.

Namun, sekarang ia terpaksa kembali meminjam uang dari rentenir untuk membiayai penanaman padi berikutnya.

Siklus utang dan bencana alam menghantui jutaan keluarga petani di Filipina.

Dalam setahun rata-rata 20 badai besar melanda negeri itu.

Menurut bank sentral, 604 dari 1.600 kota di Filipina tidak memiliki bank resmi sehingga warga sulit mengakses fasilitas kredit formal.

Di daerah tanpa akses perbankan itulah rentenir berpesta pora.

Mereka memberikan pinjaman dengan bunga tinggi.

Di Santa Rosa tempat tinggal Domingo saja, ada tujuh rentenir.

Mereka bahkan beroperasi di sebuah gedung milik pemerintah setempat.

"Kami berharap para petani mengajukan pinjaman lebih banyak setelah topan ini. Kami hanya membantu mereka," kata salah satu rentenir.

Rentenir perempuan yang juga ibu dua anak itu mengaku tidak membayar pajak apa pun kepada pemerintah atas keuntungannya.

Perempuan yang baru menjadi rentenir tahun lalu itu awalnya memulai bisnis lintah darat dengan modal dan bunga kecil.

Kini ia telah memiliki modal satu juta peso atau US$21.500 untuk dipinjamkan.

Artinya, dia mendapatkan keuntungan bersih sekitar US$2.150 per bulan.

"Saya mendapat uang berlipat-lipat ketimbang gaji saya sebagai pegawai pemerintah," kata dia.

Setidaknya, 5% orang dewasa Filipina berutang pada rentenir.

Gubernur Bank Sentral Filipina Amando Tetangco mendorong dunia perbankan agar memberikan pinjaman kepada orang miskin.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya