Kerry Yakin Konflik Israel-Palestina Reda

Andhika Prasetyo
24/10/2015 00:00
 Kerry Yakin Konflik Israel-Palestina Reda
(AFP/CARLO ALLEGRI)
MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry optimistis kerusuhan yang terjadi antara Palestina dan Israel akan segera bisa dihentikan.

Hal itu diungkapkan Kerry setelah bertemu selama 4 jam dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, di Berlin, Jerman, kemarin.

"Saya optimistis akan ada beberapa hal yang bisa dirundingkan dalam beberapa hari ke depan," ujar Kerry.

Perundingan yang dimaksud ialah sebuah hal yang akan mendorong semua pihak untuk meredakan situasi dan memulai langkah baru.

Beberapa gagasan konstruktif juga telah diangkat dalam pertemuan tersebut. Salah satunya ialah langkah yang bisa diambil Israel untuk menegaskan kembali komitmen mereka untuk mempertahankan status quo di wilayah kompleks Masjid Al-Aqsa.

"Jika semua pihak yang terlibat bersedia mencoba, kita akan mendapatkan beberapa pilihan yang dapat meredakan ketegangan," papar Kerry.

Ia berharap hal itu akan mengendalikan kembali situa­si dan menarik semua pihak dari jurang kekacauan.

Dalam agenda berbeda di Berlin, Netanyahu juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier dan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) Federica Mogherini.

Perwakilan Kuartet Perdamaian Timur Tengah, yang terdiri diplomat dari PBB, UE, Amerika Serikat, dan Rusia, juga dijadwalkan bertemu di Wina, Austria, Jumat (23/10), untuk membantu meredakan ketegangan kedua pihak.

Retorika hasutan

AS meminta Netanyahu segera menghentikan per-nyataan retorika yang bersifat menghasut.

Dalam berbagai kesempatan, berulang kali Neta­nyahu mengatakan kerusuhan yang terjadi saat ini bukan karena perundingan yang terhenti atau pendudukan Israel di Jerusalem.

"Tidak bisa dimungkiri lagi gelombang serangan yang terjadi kali ini didorong hasut­an yang dilakukan kelompok gerakan Islam Hamas dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas," tuding Netanyahu.

Bahkan, dalam pidato di depan Kongres Zionis pada Selasa (20/10), pria 66 tahun itu mengatakan pemimpin Palestinalah yang memberikan ins­pirasi kepada pemimpin Nazi Adolf Hitler untuk melakukan Holocaust atau pembantaian kaum Yahudi.

"Pada saat itu, Hitler hanya ingin mengusir kaum Yahudi, bukan memusnahkan mereka," ujar Netanyahu.

Namun, pria kelahiran Tel Aviv, Israel, itu melanjutkan, pemimpin agama asal Palestina Amin al-Husayni menemui Hitler dan menghasutnya.

"Jika Anda mengusir mereka, mereka semua akan datang ke sini (Palestina)," lanjut Netanyahu mencontohkan ucapan Al-Husayni.

Komentar kontroversial yang dikeluarkan Netanyahu tidak pelak menimbulkan kecaman dari banyak pihak.

Pemerintah AS melalui juru bicara Gedung Putih Eric Schultz mengatakan retorika yang bersifat menghasut tidak seharusnya dilakukan.

"Saya rasa kita semua tidak perlu membahas lagi siapa yang harus bertanggung jawab atas Holocaust yang menewaskan 6 juta warga Yahudi," ujar Schultz merujuk kepada Hitler.
Schultz mengatakan kedua pihak harus mencegah mengeluarkan retorika yang berisi hasutan atau tuduhan yang dapat memperparah ketegangan.

Bahkan, kecaman terhadap komentar Netanyahu juga datang dari Isaac Herzog yang merupakan sesama warga Israel. Pemimpin oposisi itu mengatakan apa yang dikatakan Netanyahu merupakan pengaburan sejarah yang berbahaya.

"Ia harus mengklarifikasi hal itu," tegas Herzog. (AFP/I-2)

andhika@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya