Masa Depan Aleppo masih Dirundingkan

Indah Hoesin
21/12/2016 06:55
Masa Depan Aleppo masih Dirundingkan
(Menlu Turki Mevlut Cavusoglu (kiri) dan Menlu Iran Mohammad Javad Zarif (kanan) mendengarkan Menlu Rusia Sergey Lavrov pada pertemuan yang membahas krisis Suriah di Moskow, Rusia, kemarin. -- AFP PHOTO/ NATALIA KOLESNIKOVA)

Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Rusia, Turki, dan Iran bertemu di Moskow untuk membahas kelanjutan penyelesaian di Aleppo, Suriah, kemarin. Rusia dan Iran sepakat untuk berbagi pangkalan di Suriah untuk mendukung koordinasi dukungan mereka terhadap Presiden Bashar al-Assad.

“Rusia dan Iran bekerja sama dengan erat untuk me­rancang aspek militer dari pertarungan melawan terorisme dan juga berkoordinasi dalam penggunaan pasukan udara Iran,” ujar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Republik Islam Iran Ali Shamkani kepada kantor berita Tasnim.

Shamkani pun mengkritik resolusi yang disepakati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dukungan dari Rusia pada Senin (19/12). “Tidak ada peran bagi pemerintah yang sah (Suriah) dan bukannya memberikan prioritas untuk bantuan kepada korban, (resolusi) itu hanya mempertimbangkan evakuasi pasukan bersenjata yang aman,” ujarnya.

Anggota Dewan Keamanan (DK) PBB akhirnya sepakat dengan suara bulat untuk meng­adopsi resolusi yang berasal dari usul Prancis itu dengan persetujuan Rusia yang sebelumnya mengancam akan memveto resolusi.

PBB pun berencana mengadakan perundingan damai baru terkait dengan penyelesaian konflik di Aleppo, Suriah, pada Februari mendatang. “Untuk itu, PBB akan mengadakan perundingan baru di Jenewa, Swiss, pada 8 Februari 2017,” utusan PBB Staffan de Mistura menegaskan.

Sementara itu, proses perdamaian di Aleppo yang melibatkan Rusia, Iran, dan Turki terganggu oleh pembunuha­n Duta Besar Rusia untuk Turki Andrei Karlov pada Senin (19/12). Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pembunuhan oleh seorang polisi Turki tersebut bertujuan mengganggu proses perdamai­an di Suriah dan merusak hubungan Turki-Rusia.

Rusia yang sejak September 2012 silam menjadi pendukung rezim Suriah mengecam pembunuhan tersebut. Bahkan menurut James Nixey, kepala program Rusia dan Eurasia di kelompok think tank Chatham House, insiden tersebut dapat memengaruhi proses evakuasi di Aleppo.

Proses evakuasi
Tentara Suriah mengumumkan peringatan bagi kelompok pemberontak dan warga sipil yang masih berada di timur Aleppo untuk segera keluar. “Kami akan memasuki Aleppo untuk membersihkan area tersebut setelah para pemberontak itu pergi,” ujar sumber dari tentara Suriah, kemarin.

Tentara pemerintah mengumumkan hal tersebut dengan menggunakan pelantang. Bus-bus dan ambulans telah mengangkut para pemberontak dan warga sipil. Dalam perjalanan yang menegangkan dari Aleppo bagian timur kendaraan itu melewati wilayah yang dikuasai pemerintah kemudian kembali ke wilayah kekuasaan pemberontak di bagian barat kota.

“Bus telah mengangkut lebih dari 7.000 orang dari kota tersebut. Evakuasi masih berlanjut dan masih ada ribuan kerumunan wanita dan anak,” ujar juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Ingy Sedky.

Proses evakuasi harus melewati sejumlah titik pemeriksaan yang dijaga tentara Suriah, Rusia, Iran, atau Irak.

Di Indonesia, ribuan orang yang tergabung dalam jemaah Persatuan Islam (Persis) melakukan aksi damai sebagai bentuk solidaritas terhadap warga sipil di Aleppo, kemarin.

“Mereka itu saudara-saudara kita yang harus kita bela. Mungkin setidaknya ini bisa menggambarkan kepedulian kita kepada mereka di sana,” kata koordinator aksi, Dian Herdiana. (AFP/Ihs/BU/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya