Menlu RI Kunjungi Pengungsi Rohingya

Ire/I-3
21/12/2016 06:31
Menlu RI Kunjungi Pengungsi Rohingya
(Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi (kiri) berdialog dengan pengungsi etnik minoritas muslim Rohingya di kamp Kutupalong, Bangladesh, kemarin. -- Dok. Kemenlu-RI)

KAMP pengungsi Kutupalong di Ukhiya, Kota Cox’s Bazar, 390 km dari Dhaka, Bangladesh, ialah tempat pe­ngungsi muslim termasuk etnik Rohingya. Di kamp perbatasan Bangladesh dan Myanmar, hidup sekitar 19 ribu pengungsi yang baru-baru ini mengalami kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

“Kondisi para pengungsi cukup memprihatinkan. Masyarakat internasional haru­s melakukan lebih untuk membantu mereka,” ungkap Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi yang berkunjung langsung, kemarin.

Dalam kunjungan itu, Retno mendengarkan para pengungsi mengisahkan pengalaman mereka, termasuk bagaimana menempuh perjalanan sampai ke sana. Dari cerita dan pengalaman para pengungsi, menurut Retno, terlihat kompleksitas permasalahan di Negara Bagian Rakhine.

“Apa pun penyebabnya, mereka hadir di Kutupalong. Mereka hidup dalam kondisi sangat minim dan kita harus berupaya lebih keras lagi untuk membantu mereka,” tuturnya.

Badan PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi dalam menangani pengungsi.

Menurut mereka, jumlah pengungsi telah melebihi kapasitas penampunga­n. Setelah ketegangan di Rakhine pada 9 Oktober lalu, jumlah pengungsi meningkat hingga 10 ribu sampai 20 ribu orang.

Menurut UNHCR, sekitar 32 ribu pengungsi muslim dari Myanmar tercatat resmi di dua kamp pengungsian di Bangladesh. Sekitar 200 ri­bu pengungsi lainnya tidak tercatat dan tinggal di per­batasan Bangladesh dan Myanmar.

Dukungan negara tetangga
Penyelesaian masalah peng­ungsi harus dilakukan di ne­­gara asal dan pendekatan inklusif di Rakhine oleh peme­rintah Myanmar. Namun, upaya itu juga perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk para negara tetangga. Indonesia salah sa­tunya, yang akan terus mendukung usaha tersebut.

Tantangan saat ini, menurut Retno, ialah keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia untuk membantu meme­nuhi kebutuhan pengungsi. Saat ini UNHCR dan IOM secara intens membant­u.

Retno menilai dukungan dari Bangladesh menjadi hal yang penting. “Hubungan dan komunikasi baik antara Myanmar dan Bangladesh kunci dari pengelolaan isu pengungsi di perbatasan kedua negara,” tegas Retno.

Karena itu, sebelum mengunjungi kamp pengungsi, Retno bertemu dengan Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood di Dhaka. Menlu kedua negara membahas pelbagai masalah pe­ngungsi muslim dari Ra­khine tersebut.

Senada dengan pesannya kepada State Counsellor Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi, di Yangon, Retno menekankan kepada Menlu Bangladesh agar tetap menjaga hubungan baik dengan Myanmar.

Sebelumnya Suu Kyi pun sudah merespons masukan dari Indonesia tersebut dengan mengirim utusan khusus ke Bangladesh. (Ire/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya