OH In-se dan istrinya, Lee Soon-kyu, menikah pada 1949.
Saat itu, Oh berusia 17 tahun dan Lee 19.
Mereka hidup bersama hanya selama 7 bulan lantas terpisah saat Perang Korea pecah pada Juni 1950, ketika Korea Utara menginvasi.
Kala itu, Lee tengah mengandung anak mereka.
Sejak itu pula, Oh dan Lee hidup terpisah.
Di Korea Selatan, Lee membesarkan anak mereka seorang diri.
Lee bekerja sebagai penjahit dan bertani.
Lee juga tidak pernah menikah lagi dan tetap tinggal di rumah yang dia huni bersama Oh kala masih pengantin baru.
Lee juga sempat berpikir Oh telah wafat.
Setiap tahun ia melakukan ritual berkabung untuk sang suami.
Kini, 65 tahun telah berselang.
Pada usia Lee yang 85 tahun dan Oh 83 tahun, keduanya bersua lagi.
Lee merupakan satu dari 390 warga Korsel, kebanyakan manula, yang dipilih untuk mengikuti acara reuni keluarga dua Korea yang terpisah sejak perang Korea 1950-1953.
Kemarin merupakan hari terakhir pertemuan reuni kelompok pertama yang digelar selama tiga hari di Resor Gunung Kumgang, Korea Utara.
Reuni kelompok kedua dijadwalkan digelar selama tiga hari mulai besok.
Oh dan Lee, juga ratusan orang yang berkumpul dalam acara reuni itu, boleh dikatakan beruntung.
Banyak warga yang telah meninggal sebelum sempat memperoleh kesempatan untuk dipilih dalam acara reuni keluarga dua Korea.
Bahkan kini, lebih dari 66 ribu warga Korea Selatan masih dalam daftar tunggu untuk dipilih.
Saat Oh dan Lee bertemu pertama kalinya setelah 65 tahun, pada Selasa (20/10), Oh mengutarakan sosok sang istri selalu dalam benaknya. Lee membalasnya dengan ucapan terima kasih.
"Karena masih hidup," tuturnya. Sang anak, Jang-kyun, yang kini berusia 65 tahun, bersujud di hadapan ayahanda yang belum pernah ia temui sebelum itu.
Pada hari kedua reuni, Oh dan Lee, juga Jang-kyun saling menggoda.
Saat sang anak berkelakar agar ayahnya tidak menggoda ibunya, sang ayah menjawab, "Saya melakukan ini karena saya mencintainya."
Lee bertanya, "Apakah kamu tahu seberapa besar cinta itu?"
Oh menyahut, "Ya, saya tahu. Sama halnya saat seorang laki-laki muda dan perempuan bertemu untuk pertama kali dan hidup bersama selamanya."
Menjelang waktu berpisah pada hari terakhir kemarin, rasa haru merebak di antara ratusan warga dua Korea yang saling mengucap salam perpisahan di ruang pertemuan.
Lee merapikan dasi yang dikenakan suaminya. Jari-jemari Lee disambut rengkuhan tangan Oh.
"Semoga kita bertemu lagi di akhirat," ucap Oh.
Lee menatapnya lalu menjawab, "Jagalah kesehatanmu. Teruslah hidup."
Oh lalu meninggalkan tempat pertemuan lebih dulu dengan menggunakan bus bersama peserta reuni dari Korea Utara lainnya.
Ia mengulurkan tangannya melalui jendela bus, berusaha menggapai tangan Lee, yang tengah tersenyum melepas kepergian sang suami.
"Tolong besarkan anak kita dengan baik dan perluas pikiranmu," kata Oh kepada Lee.