SEKELOMPOK negara Arab, Selasa (20/10), mengirimkan rancangan resolusi baru kepada badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk urusan pendidikan dan kebudayaan, United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Rancangan itu menyatakan bahwa Tembok Barat Jerusalem, wilayah yang dijadikan tempat berdoa warga Yahudi, merupakan bagian dari kompleks Masjid Al-Aqsa.
Dalam resolusi itu juga disebutkan bahwa Buraq Plaza, sebutan untuk alun-alun di depan Tembok Barat, merupakan bagian integral dari Masjid Al-Aqsa.
Rancangan yang ditandatangani Aljazair, Mesir, Kuwait, Maroko, Tunisia, dan Uni Emirat Arab tersebut tidak terlepas dari tindakan kekerasan Israel di wilayah, termasuk membatasi akses warga muslim yang hendak beribadah di sana.
Pengajuan rancangan tersebut memicu kemarahan pemerintah Israel. Mereka menyebut rancangan itu upaya memutarbalikkan sejarah. "The Temple Mount dan Tembok Barat di jantung Jerusalem merupakan bagian dari sejarah Yahudi. Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan dalam sejarah," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Hotovely.
Rancangan tersebut akan diputuskan melalui pemungutan suara pada Rabu (21/10) atau Kamis (22/10) waktu setempat yang diikuti 58 anggota dewan eksekutif UNESCO. Kepala UNESCO Irina Bokova berharap hasil keputusan tidak akan mengobarkan ketegangan dan menodai kesucian.
Tembok Barat merupakan satu-satunya tempat suci di wilayah Masjid Al-Aqsa yang dibuka bagi warga Yahudi untuk berdoa, mengingat menurut status quo selama 50 tahun, mereka tidak diperkenankan masuk ke wilayah Al-Aqsa kecuali sebagai turis.
Lokasi seluas 14 hektare yang dianggap suci baik oleh umat Islam maupun Yahudi itu terletak di sudut tenggara Kota Tua Jerusalem. Muslim menyebutnya Al-Haram al-Sharif (Tempat Suci) dan Yahudi menyebutnya Temple Mount. (AFP/Pra/I-1)