Dunia Manusiawi di Ruang-Ruang Auckland

Irana Shalindra/I-1
19/12/2016 07:25
Dunia Manusiawi di Ruang-Ruang Auckland
(Pengunjung bersantai di antara instalasi seni Te Waharoa o Aotea di Aotearoa Square, Auckland, Selandia Baru, akhir bulan lalu. -- MI/irana shalindra)

‘SENI adalah upaya untuk menciptakan, di samping dunia realitas yang ada, dunia yang lebih manusiawi’. Begitu salah satu (terjemahan) kutipan dari Andre Maurois, penulis asal Prancis.

Bagi banyak orang, seni kerap menjadi hal ekslusif. Berjarak dari kehidupan sehari-hari. Padahal, tidak melulu begitu. Seni bukan sekadar opera yang harus ditebus dengan tiket mahal atau instalasi absurd yang membuat dahi berkerut.

Seni dapat dengan mudah dijangkau, menjadi keseharian masyarakat, seperti tecermin di ruang publik Auckland, Selandia Baru. Selayaknya galeri, berbagai sisi Auckland menjadi ajang pamer karya atau kegiatan seniman. Mulai patung (sculpture) sampai musik. Dari taman sampai dinding gedung.

Seni di ruang publik Auckland, seperti dituturkan seniman sculpture Joko Avianto, dimanfaatkan untuk merespons problem sosial. “Graffiti-graffiti di Karangahape Road, itu ekspresi seniman terhadap masalah sosial, seperti prostitusi, kriminalitas,” kata peserta Pegiat Budaya 2016 yang baru melawat ke Selandia Baru selama tiga pekan itu.

Dengan tradisi mural, Karangahape alias K’Road menampilkan sisi unik Auckland. Masuknya bisnis prostitusi kala harga properti tengah murah membuat K’Road sempat dicap sebagai distrik merah. Namun, setelah bisnis-bisnis itu tutup, muncul kegelisahan baru. Rencana pembuatan jalur bus dan kereta dikhawatirkan menaikkan harga properti di K’Road, membuat warga lama tergusur.

Seniman mural Ross Liew mengatakan keberadaan mural penting untuk mempertahankan tradisi K’Road yang memang terbangun dari kultur kreatif. Praktik seni di ruang publik Auckland secara umum, lanjut Liew, telah menjadi hal lazim. “Namun, memang tak semua berkualitas tinggi atau punya tema relevan dengan kami sebagai Aucklanders,” ia mengakui.

Interaksi publik dengan seni juga hadir di antara sekat galeri. Seni, menurut Manajer Hellensville Art Center Sally Lush, memberi tempat bagi mereka yang kadang terabaikan. Di galerinya, workshop untuk para penyandang disabilitas sudah menjadi rutinitas. “Kami dibantu pemerintah lewat diskon sewa ruang, tarif listrik dan air. Dana lainnya kami dapat dari mengisi formulir-formulir pengajuan dana, penjualan tiket, juga donasi masyarakat,” imbuh Lush.

Di Auckland, berdonasi atau jadi relawan di galeri, perpustakaan, museum, dan aktivitas seni budaya, itu biasa. Sebagian beranggapan itu dsiebabkan ‘Negeri Kiwi’ terbilang negara maju yang sudah selesai dengan masalah dasar pangan dan papan.

Data Bank Dunia, per 2015, pendapatan per kapita Selandia Baru dengan penduduk kurang lebih 4,5 juta sekitar US$37 ribu. Indonesia? Baru sekitar US$3.400 saja. Jika kembali ke pernyataan Maurois, haruskah menunggu perut kenyang untuk mendorong seni? Untuk menciptakan dunia yang lebih manusiawi? (Irana Shalindra/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya