ASEAN Retreat Bahas Rohingya

Indah Hoesin
19/12/2016 06:27
ASEAN Retreat Bahas Rohingya
(Ribuan umat Islam yang tergabung dalam Partai Islami Andolan Bangladesh akan long march menuju perbatasan Myanmar untuk memprotes tindakan keras pemerintah Myanmar terhadap etnik minoritas muslim Rohingya. -- AFP PHOTO / MUNIR UZ ZAMAN)

PERKEMBANGAN konflik militer Myanmar dengan etnik Rohingya di Negara Bagian Rakhine menja­di pembahasan utama dalam perte­mu­an ASEAN Retreat di Yangoon, Myanmar, hari ini.

“Saya akan hadir di pertemuan ASEAN Retreat di Yangoon yang utamanya akan membahas perkembangan di Rakhine State,” ung­kap Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dalam siaran persnya, kemarin.

Undangan menghadiri ASEAN Retreat itu datang dari State Counselor Myanmar Daw Aung San Suu Kyi kepada seluruh menteri luar negeri ASEAN. Retno menyambut baik langkah yang memberi kesempatan kepada ASEAN sebagai keluarga besar untuk membahas kondisi Negara Bagian Rakhine.

Pada pertemuan ASEAN Retreat, Indone­sia menekankan pentingnya pemulih­an keamanan dan stabilitas dengan segera di Rakhine. Penghormatan dan perlindung­­an HAM untuk seluruh masyarakat Rakhine juga terus didorong. Indonesia juga mengusulkan perluasan akses kemanusiaan termasuk bantuan kemanusiaan dari ASEAN.

“ASEAN memiliki kemampuan untuk da­pat membantu sesama anggota keluarga yang menghadapi tantangan. Indonesia mengharapkan negara-negara ASEAN memberi dukungan konkret untuk Myanmar agar situasi di Rakhine lebih stabil dan kondusif,” jelas Retno.

Sebelumnya, pada 6 Desember lalu Retno bertemu Suu Kyi di Naypyidaw untuk menyampaikan keprihatinan Indonesia atas kondisi etnik Rohingya di Rakhine, membahas akses kemanusiaan, dan mengajak negara-negara ASEAN turut berpartisipasi.

Protes Rohingya
Polisi di ibu kota Bangladesh, Dhaka, menghentikan ribuan umat Islam yang berjalan menuju perbatasan Myanmar, kemarin. Aksi itu dilakukan untuk memprotes tindakan keras pemerintah Myanmar terhadap etnik Rohingya.

Ribuan muslim yang tergabung dalam Partai Islami Andolan Bangladesh berkumpul di depan Masjid Nasional Baitul Mukarram di Dhaka. Mereka membawa pla­kat dan meneriakkan slogan-slogan yang mengecam penerima hadiah Nobel Per­damaian yang juga pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi.

Kepala polisi setempat, Rafiqul Islam, mengatakan sedikitnya 6.000 orang telah tiba untuk aksi berjalan menuju perbatasan sebelah tenggara Bangladesh. “Namun, itu terhenti karena kami telah membahas pawai tersebut akan menghambat kehidupan publik,” ujarnya.

Para pejabat partai tersebut menuduh po­lisi menghentikan dengan tegas dan me­nangkap mereka. “Mereka (polisi) menghentikan aktivis kami dan secara acak me­nangkap banyak anggota kami. Kami sangat mengutuk tindakan seperti itu,” ujar juru bicara partai, Atiqur Rahman.

Kampanye militer di negara bagian se­belah barat Myanmar, Rakhine, telah meng­akibatkan 27 ribu etnik Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Kelompok yang berhasil melarikan diri tersebut menceritakan kisah mengerikan yang dilakukan pasukan militer termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan, dan penyiksaan.

Kelompok mayoritas Buddha Myanmar telah lama melakukan diskriminasi terhadap Rohingya yang mereka sebut ‘stateless’ (tidak bernegara). Militer Myanmar kembali melancarkan balasan setelah terjadinya serangan di pos polisi pada 9 Oktober lalu. (AFP/Ire/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya