Terpaan Topan Koppu Mereda

AFP/Aya/I-3
21/10/2015 00:00
Terpaan Topan Koppu Mereda
(AP)
KENDATI serangan topan tropis Koppu telah mereda dan bergerak menuju Laut China Selatan, hujan masih turun di wilayah pertanian dan pegunungan selatan Filipina, kemarin. Luapan air pun mulai menyusut dan mengalir ke kawasan pertanian perdesaan di Cabanatuan. Lebih dari 200 desa kawasan pertanian terendam banjir. Bahkan sejumlah lokasi digenangi air setinggi lebih dari 1 meter. Hujan yang mengguyur daerah pegunungan Cordillera juga diprediksi dapat menyebabkan air mengalir menuju daerah yang lebih rendah.

"Air bertambah dengan sangat cepat, untungnya kami dapat menyelamatkan diri," kata Lourdes Gatmaitan, 64, seorang warga. Ia mengaku harus tidur di lapangan bola basket yang dialihfungsikan menjadi pusat evakuasi di Cabanatuan. Banjir yang memasuki dae-rah perbatasan Kota Cabana-tuan telah menyebabkan area persawahan rusak, terendam, dan tanaman layu. Sejumlah warga juga sibuk mengeringkan kasur dan selimut mereka dari air berlumpur di sisi-sisi jalan.

"Jika kami tidak membersihkan ini segera, kami bisa jatuh sakit," tutur seorang warga, Dennis Punzalan, yang tengah sibuk mengeringkan tempat tidurnya yang basah. Ramalan cuaca setempat memprediksi terjangan angin topan Koppu akan berkurang dan bergerak ke arah daerah perbatasan di wilayah utara Luzon pada Rabu (21/10) pagi.

Kendati bukanlah topan yang paling mematikan, terpaan topan Koppu telah membuat ribuan warga yang bermasalah dengan keuangan semakin terjerumus pada kemiskinan lebih dalam. Sebelumnya, sekitar 300 ribu orang menderita akibat topan kedua terbesar di Filipina. Demikian menurut Badan Penanggulangan Bencana Alam Filipina.

Hingga kemarin, sebanyak 22 warga dilaporkan tewas akibat serangan topan Koppu yang menyebabkan banjir, tanah longsor, kapal tenggelam, serta puing-puing bangunan dan pepohonan menimpa warga. Di sisi lain, letak geografis Filipina telah membuat negara tersebut rentan diterpa serangan badai. Dalam setahun, Filipina setidaknya mengalami bencana badai sebanyak 20 kali dan beberapa di antaranya topan mematikan. Ilmuwan menduga perubahan iklim telah menyebabkan topan kerap terjadi. Kendati bencana itu terjadi lebih dari 500 kilometer dari pusat topan, otoritas lokal menyebut topan diperparah kondisi angin muson.

Topan Koppu telah melanda Filipina sejak Sabtu (17/10) lalu. Warga terjebak di atap rumah-rumah dan hewan-hewan hanyut terbawa arus air. Sementara itu, aparat militer, pemerintah, dan sukarelawan berupaya menyelamatkan para korban dengan menggunakan perahu karet. Pada Minggu (18/10), tujuh penumpang kapal feri tewas di sekitar Pulau Guimaras. Tiga korban tewas akibat tanah longsor ditemukan di Provinsi Aurora. Empat korban tewas lainnya yang disebabkan tertimpa pohon dan puing bangunan terjadi di wilayah utara Manila.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya