Hubungan Trump dan CIA Renggang

(AFP/Ths/I-2)
16/12/2016 02:50
Hubungan Trump dan CIA Renggang
(AFP PHOTO / DON EMMERT)

BANTAHAN Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap kesimpulan Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) yang menyatakan Rusia turut campur dalam pemilihan presiden (pilpres) beberapa waktu lalu dapat menciptakan keretakan hubungan. Mantan pejabat CIA Michael Hayden menilai pernyataan Trump akan merenggangkan hubungan Trump yang segera berkantor di Gedung Putih dan CIA sebagai sumber intelijen global yang memegang peranan penting.

Kecuali, kata dia, Trump ingin memperbaiki hubungan dengan CIA. Sebelumnya, CIA menyebutkan Moskow telah meretas komputer partai politik. Para peretes asal Rusia telah membantu memenangkan calon presiden Trump dalam pilpres pada November lalu. "Saya pikir presiden terpilih ialah satu-satunya orang Amerika terkemuka yang belum mengakui bahwa Rusia melakukan kegiatan mereka secara besar-besaran selama masa kampanye untuk melawan AS," kata Hayden, Rabu (14/12) waktu setempat.

Hayden dan mantan Kepala CIA Leon Panetta telah memperingatkan penolakan Trump terhadap kesimpulan CIA itu telah menandai awal yang tidak baik dalam membangun hubungan yang lebih penting ke depannya. "Intelijen bagaimanapun harus dipanggil untuk menjadi dasar dan menetapkan batas-batas untuk pilihan kebijakan yang rasional," kata Hayden. "Mungkin itu akan terjadi meskipun tampaknya suram setelah seminggu terakhir ini dan kita dapat bergerak ke arah yang salah."

Hayden menambahkan, dengan menolak pandangan CIA, Trump tampaknya memilih untuk bersepakat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dipandang pejabat Washington sebagai saingan yang berbahaya. "Pada acara tertentu, apa yang Trump katakan tentang hal itu adalah hal yang juga disampaikan Putin," tegas Hayden yang ingin menunjukkan betapa dekatnya hubungan Trump dan Putin.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan Minggu (11/12), Trump mengatakan kesimpulan CIA terkait dengan intervensi Rusia dalam pemilu AS merupakan kesimpulan yang 'konyol' dan hanya untuk membenarkan kalangan Demokrat atas kekalahan pada pemilu 8 November lalu. "Mereka tidak tahu apakah itu Rusia atau Tiongkok atau bahkan seseorang. Hal ini bisa saja seseorang yang entah melakukannya dari suatu tempat tertentu," kata Trump.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya