Harap-Harap Cemas Nantikan Arah Trump

(Dhika Kusuma Winata/I-3)
15/12/2016 02:30
Harap-Harap Cemas Nantikan Arah Trump
(PA)

CALON pengisi posisi paling bergengsi dalam kabinet pemerintahan Amerika Serikat mendatang akhirnya terungkap. Presiden terpilih Donald Trump mengajukan bos Exxon Mobil Rex Tillerson sebagai menteri luar negeri, Senin (12/12) lalu. Jika disetujui Senat, Tillerson akan menjadi perpanjangan tangan Trump untuk mengeksekusi kebijakan AS di seluruh dunia, tak terkecuali di Asia.

Tillerson ialah pengusaha minyak yang dikenal punya koneksi kuat dengan Rusia. Ia sukses menangani proyek Exxon di Arktik wilayah Rusia. Tiga tahun silam, Presiden Vladimir Putin memberikan penghargaan kenegaraan tertinggi bagi warga asing kepada dia. Tak ayal, penunjukan lelaki berusia 64 tahun itu menjadi tanda keseriusan Trump memperbaiki hubungan dengan Moskow seperti yang dijanjikan semasa kampanye.

Jika Rusia kelak menjadi salah satu prioritas pemerintahan Trump, bagaimana dengan nasib Asia? Pada kepemimpin-an Barack Obama, Asia mendapat tempat istimewa. Presiden yang punya kedekatan personal dengan Indonesia itu menerapkan kebijakan strategis 'Asia Pivot'. Tujuannya agar kawasan Asia (dan Pasifik) tetap dalam rangkulan AS. Doktrin itu juga dipromosikan sang pesaing Trump, Hillary Clinton, kala ia menjabat menteri luar negeri.

Seolah berbanding terbalik, Trump secara telanjang melihat diplomasi dari kacamata kalkulasi ekonomi. Ia mengumbar ancaman bakal membatalkan kesepakatan-kesepakatan yang merugikan kepentingan nasional AS. Dua sekutu setia AS, Jepang dan Korea Selatan, tak luput dari cecaran Trump. Sang taipan realestat itu menilai kedua negara merugikan AS karena tidak menanggung biaya pertahanan regional secara proporsional.

Konsekuensi paling ekstrem, AS berpotensi mengurangi porsi militer mereka di kawasan. Yang dipandang tak kalah mencemaskan ialah rencana penarikan diri dari Kerja Sama Trans-Pasifik (TPP) dan Perjanjian Paris. Padahal, banyak negara Asia berkepentingan dalam kedua perjanjian itu. Hanya Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte yang tampak antusias dengan terpilihnya Trump.

Asia, rumah bagi 60% populasi dunia, kerap dipandang menjanjikan sebagai peluang ekonomi melalui berbagai kerja sama, mulai pembangunan infrastruktur, pengembangan pasar keuangan, hingga pasar konsumsi. Namun, di saat yang sama, Asia juga diselimuti instabilitas politik dan keamanan. Di antaranya sengketa di Laut China Selatan dan Laut China Timur, serta nuklir Korea Utara.

Kebangkitan Tiong-kok makin memperketat persaingan pengaruh hingga mengubah arah politik negara-negara Asia. Sebagian condong ke Beijing, sebagian ke Washington, dan tak sedikit pula yang bermain dua kaki, menjaga hubungan seimbang dengan dua poros itu. Maka, transisi kepemimpinan di AS menimbulkan banyak ketidakpastian.

'Perang dagang' terhadap Tiong-kok yang didengungkan Trump pun dicemaskan bakal membuat harga di seluruh dunia meroket. Bagi Asia, retorika kampanye Trump yang cenderung inward-looking diharapkan tidak akan terwujud dalam bentuk kebijakan resmi. Sebaliknya, jika AS nantinya bakal memunggungi Asia, angin politik di kawasan diperkirakan menguntungkan Tiongkok.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya