Musim Dingin Tiba para Migran kian Menderita

AFP/Yanurisa Ananta/I-3
19/10/2015 00:00
Musim Dingin Tiba para Migran kian Menderita
(AFP/PHILIPPE HUGUEN)
PENDERITAAN demi penderitaan datang silih berganti. Itulah nasib yang dialami para pengungsi yang tiba di Calais, wilayah utara Prancis.

Setelah lolos dari ganas gelombang Laut Mediterania, penderitaan para pengungsi belumlah berakhir.

Ribuan pengungsi atau migran dari beberapa negara yang dilanda konflik di Afrika itu tinggal di kamp darurat.

Mereka tinggal di kamp-kamp yang dibangun dari kayu.

Sejenak mereka bisa bernapas lega dengan tinggal di kamp penampungan tersebut.

Namun kini, udara di wilayah Prancis tidak sedang bersahabat dengan kedatangan musim dingin.

Suhu udara yang bisa mencapai lima derajat celsius pada malam hari dipastikan telah menambah penderitaan para imigran.

Suhu yang membuat beku tubuh tersebut akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

"Saya tidak punya apa-apa untuk melindungi (tubuh). Saya akan menggunakan baju hangat tambahan yang disediakan organisasi (kemanusiaan)," kata Abdulilah, 50, yang sedang membangun sebuah gubuk.

Saat ini, jumlah migran terus bertambah dari waktu ke waktu.

Pada awal Juni, para migran tercatat hanya 2.500 orang.

Namun hingga Oktober, jumlah migran melonjak menjadi 4.000-6000 orang.

Di Kota Calais saja, sekitar 125 migran hingga 150 migran tiba.

Para migran itu sebagian besar berasal dari Sudan dan Eritrea.

"Kami harus berjalan masuk ke kubangan lumpur. Ada lokasi yang digenangi air dan ini menjadi sangat sulit. Kami didera angin, hujan, dan dingin. Bahkan ini lebih buruk dari 'hutan' sebelumnya," ujar Francois Guennoc, seorang relawan dari L'Auberge des Migrants.

Selain itu, sistem pelayanan sosial belum dilayani dengan baik.

Proses aplikasi suaka para migran masih berjalan lambat.

Kepala Divisi Doctors Without Borders di Prancis, Jean-Francois Corty, mengakui hal tersebut dan menyebut situasinya kacau.

"(Hal ini) tidak mampu ditopang negara ekonomi terbesar keenam ini (Prancis)," tambahnya.

Sejak September, para migran yang memasuki daerah perbatasan menuju Inggris dari pelabuhan atau Eurotunnel telah menurun karena pengamanan diperketat.

Kendati jumlanya lebih sedikit, para pencari suaka dan migran masih terus berdatangan.

Kondisi tersebut kian menambah kondisi kamp pengungsi yang tak lagi kondusif untuk ditinggali.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya