Seratusan Pejabat Kurdi Ditahan

Indah Hoesin
13/12/2016 06:43
Seratusan Pejabat Kurdi Ditahan
(Grafis/AFP)

KEPOLISIAN Turki menahan lebih dari 100 pejabat Partai Demokrat pro-Kurdi (HDP), kemarin. Mereka ditahan atas tuduhan terlibat dengan gerilyawan Kurdi dalam operasi besar negara.

Kantor berita Turki Anadolu melaporkan penyergapan pagi hari tersebut menangkap 118 pejabat HDP yang dicurigai terlibat dengan Partai Buruh Kurdi (PKK) atau menciptakan propaganda untuk kelompok tersebut.

Sebanyak 20 pejabat di Istanbul, termasuk kepala provinsi, Aysel Guzel yang juga anggota HDP, telah ditahan. Tujuh belas lainnya ditahan di Ankara, termasuk ketua partai Ibrahim Binici. Penahanan pejabat lainnya terjadi di provinsi sebelah selatan, yakni Adana dan Mersin, Provinsi Manisa di sebelah barat, serta Sanliurfa di sebelah tenggara Turki.

Bulan lalu, 10 anggota parlemen HDP termasuk wakil ketua Selahattin Demirtas dan Figen Yuksekdag juga ditangkap dan itu memicu perhatian dunia internasional. Mereka dituduh sebagai anggota PKK dan ditahan.

PKK yang disebut organisasi teroris oleh Ankara, Brussels, dan Washington telah beberapa kali memberontak terhadap Turki sejak 1984.

Pada Juli tahun lalu gencatan senjata antara pemerintah Turki dan PKK runtuh dan sejak itu pemerintah bersumpah akan menumpas PKK melalui sejumlah operasi militer. Bentrokan pun hampir setiap terjadi di sebelah tenggara Turki.

Serangan bom Istanbul
Operasi penangkapan itu merupa­kan bagian dari penyelidikan anti-teror setelah dua serangan bom terjadi di luar sebuah stadion sepak bola Besiktas di Istanbul pada Sabtu (10/12) lalu. Serangan itu menewaskan 38 orang dan menyebabkan 160 orang terluka, termasuk 19 o­rang dalam perawatan intensif.

Tempat serangan berada di seberang Istana Ottoman Dolma­bahce yang merupakan kantor Perdana Menteri Binali Yildirim dan hanya berjarak 1 kilometer dari kawasan sibuk Taksim Square, kawasan padat wisatawan. Wakil PM Numan Kurtulmus mengatakan 300-400 kg bahan peledak digunakan dalam serangan tersebut.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan keamanan pada Minggu (11/12) setelah menyatakan akan meme­rangi terorisme sampai akhir pada pemakaman 30 polisi yang tewas akibat serangan tersebut.

Yildirim, yang berada di pemakaman bersama dengan Erdogan, sebelumnya menuduh PKK bertanggung jawab atas serangan tersebut. Teror tersebut diklaim Kurdistan Freedom Falcons (TAK), cabang PKK, sebagai serangan yang menjadikan polisi sebagai target.

Dalam pernyataan di situs kelompok tersebut pada Minggu, TAK mengatakan dua anggota mereka juga tewas dalam serangan itu.

Sebelumnya pada Juni, TAK pun meluncurkan serangan yang mene­waskan 11 orang di Istanbul. TAK juga bertanggung jawab atas tewasnya puluhan orang di Ankara pada Februari dan Maret lalu.

Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu mengatakan pada Minggu sedikitnya 13 orang telah ditahan karena mem-posting pujian untuk terorisme di media sosial. “Cepat atau lambat, kita akan membalas dendam. Darah ini tidak akan dibiarkan begitu saja, tidak peduli berapa harga dan biayanya,” ujar Soylu.

Turki mengalami serangkaian serangan bom tahun ini, termasuk lima serangan di Istanbul. Pada Juni, 47 orang tewas dalam tiga serangan bom bunuh diri dan serangan senjata di Bandara Ataturk, Istanbul. Pada Agustus, 57 orang, termasuk 34 anak-anak, juga tewas dalam serangan bom bunuh diri IS di pesta pernikahan Kurdi di Gaziantep. (AFP/Aljazeera/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya