Bersatu demi Hadapi Ancaman Korea Utara

(Ibtimes/myna/Ths/I-2)
13/12/2016 01:00
Bersatu demi Hadapi Ancaman Korea Utara
(Hironori Asakawa/Kyodo News via AP)

KONFLIK di Semenanjung Korea tentu bukan hanya melibatkan kedua negara, Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel). Konflik kawasan tersebut turut menarik kekuatan geopolitik dunia dan negara adidaya. Di blok utara, Pyongyang mendapat dukungan dari Tiongkok dan Rusia, sedangkan di blok selatan, Seoul bersahabat dengan Jepang dan Amerika Serikat (AS). Situasi Semenanjung Korea bak roller coaster dari waktu ke waktu. Belakangan, situasi memanas kembali meningkat. 'Negeri Sakura' dan dan 'Negeri Ginseng' menandatangani perjanjian kerja sama militer berupa pertukaran informasi intelijen. Perjanjian tersebut bertujuan mengimbangi ancaman Korut yang telah melakukan beberapa kali uji coba rudal.

Dengan ancaman rudal nuklir dari Korut, Korsel harus menjalin hubungan lebih erat dengan dua sekutu, Jepang dan AS. Masalahnya, Seoul belum dapat membaca arah kebijakan politik luar negeri 'Negeri Paman Sam' di tangan pengusaha realestat, Donald Trump. Secara geopolitik, posisi Semenanjung Korea tak begitu menguntungkan. Namun, bila ditilik dari sejarah, AS sangat memiliki kepentingan. Wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Perang Dunia II dan Korsel.

Pada 1947, komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin AS di wilayah Korsel menyampaikan laporan kepada Menteri Luar Negeri Dean Acheson dan memberikan penilaian negatif tentang militer Korea. Pada tahun berikutnya, secara terbuka Acheson terbuka menyatakan garis pertahanan dari ancaman komunis di Asia yang berdasarkan garis pertahanan pulau. Selama perang Korea terjadi, pasukan AS siap menyelamatkan diri ke wilayah Jepang. Negara adidaya tersebut meyakini dapat membela Pasifik selama Jepang bersekutu. Sikap tersebut tetap tidak berubah sampai saat ini.

Pernah dalam sejarah AS, Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice menyebut Korsel sebagai sekutu Amerika yang berjuang bersama-sama dalam perang Korea dan Vietnam. Kendati tidak banyak melakukan investasi strategis, AS tetap menginginkan Seoul sebagai sahabat dan tak ingin mereka di bawah pengaruh Tiongkok. Bagaimana dengan Jepang? Kepentingan mereka dengan Korea Selatan dan tentunya Semenanjung Korea bertujuan melawan Tiongkok yang pernah dalam sejarah menggunakan daerah semenanjung tersebut sebagai pijakan untuk menyerang Jepang. Jepang tampaknya paranoid dengan pengalaman kelam sejarah tersebut.

Di sisi lain, terkait dengan adanya perjanjian intelligence sharing antara Jepang dan Korea Selatan, Tiongkok melancarkan kritikan dan memandang perjanjian tersebut hanya akan meningkatkan ketegangan dengan Korut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, mengatakan Jepang dan Korsel memiliki 'mentalitas Perang Dingin'. Ia menegaskan perjanjian tersebut hanya memperburuk antagonisme dan konfrontasi di Semenanjung Korea.

Geng menambahkan kesepakatan tersebut akan membawa faktor tidak aman dan tidak stabil yang baru di Asia Timur Laut. Tak hanya itu, perjanjian tersebut tidak sejalan dengan tren zaman yang menampilkan perdamaian dan pembangunan. "Situasi saat ini di Semenanjung Korea masih sensitif dan kompleks," kata Geng. "Kerja sama militer negara-negara yang relevan bagaimana pun harus menghormati masalah keamanan dari negara-negara regional," tambahnya.

Sebaliknya, Menteri Pertahanan AS Ash Carter pada Rabu (30/12) menyambut baik pakta tersebut. Dia mengatakan hal tersebut akan memungkinkan peningkatan berbagi informasi dan memperkuat kerja sama antardua sekutu terdekat Washington di wilayah tersebut. "Dengan berbagi informasi keamanan yang sesuai, mereka akan meningkatkan postur pencegahan melawan agresi Korut dan memperkuat kemampuan mereka untuk mempertahankan diri terhadap peluncuran rudal dan tes nuklir yang jelas dilarang resolusi Dewan Keamanan PBB," tegas Carter. (Ibtimes/myna/Ths/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya