Buku Masak, Penawar Kesulitan Hidup

AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-1
18/10/2015 00:00
Buku Masak, Penawar Kesulitan Hidup
Pengunjung mengamati buku yang dipamerkan di stan buku Indonesia dalam Frankfurt Book Fair 2015 di Frankfurt, Jerman, Kamis (15/10).(ANTARA/Fanny Octavianus)

SEDERET gambar makanan penutup yang menggugah selera, rempah-rempah, dan koki yang berpose ceria menyambut para pengunjung Frankfurt Book Fair 2015. Buku-buku yang mengulas soal kuliner, masak-memasak, ataupun resep dapur, mendapat tempat khusus dalam dunia penerbitan sebagaimana tampak di pameran buku terbesar dunia yang digelar di Jerman itu.

Dengan menempati ruang berukuran lapang di pameran, area yang diberi nama Gourmet Gallery, didedikasikan secara eksklusif untuk buku-buku tentang kuliner atau masak-memasak. Di sana buku-buku masak dari seluruh dunia dipamerkan ke publik. Ada buku-buku yang khusus membahas kuliner Rusia, ada pula buku soal masakan Prancis, juga buku tentang masakan khas Indonesia, yakni negara yang menjadi tamu kehormatan dalam Frankfurt Book Fair 2015 yang ditutup hari ini.

Bersamaan dengan meningkatnya aksi kekerasan Palestina-Israel di Timur Tengah, di Gourmet Gallery itu stan buku dari Gaza, Palestina, malah bersisian dengan stan Israel.

Demam buku masak pun melanda dunia penerbitan Iran. "Lima tahun lalu, pasar kami tidak seperti itu, tetapi sekarang buku masak amat populer di Iran," kata juru masak asal Iran, Samira Janatdoust, yang memamerkan karya pribadinya meskipun negaranya memboikot ajang itu karena memberi ruang bagi buku The Satanic Verses karya penulis Inggris kelahiran India yang kontroversial, Salman Rushdie.

Buku-buku kuliner dan masak-memasak memang populer. Bagi kebanyakan orang, buku memasak itu seperti majalah fesyen dengan gambar-gambar mengilap. Tema-temanya pun semakin spesifik sebut saja cupcakes, masakan khas regional, bahkan buku memasak untuk anak-anak.

"Dua puluh tahun lalu, buku-buku masak dipajang tersembunyi, tidak dihormati. Seseorang harus spesialis betul untuk urusan masak-memasak kala itu. Jika tidak, ya Anda tidak bisa diterima sebuah penerbit besar," kata Edouard Cointreau, Presiden Gourmand World Cookbook Awards, yakni lembaga yang memberi penghargaan bagi buku-buku kuliner, wine, juga koki di seluruh dunia. Kini pasar tahunan dunia untuk buku masakan, dijelaskan Cointreau, cukup besar, yaitu sekitar US$6 miliar (Rp80 triliun) dan tumbuh 3%-5%. Program televisi ikut menumbuhkan pasar tersebut meskipun buku-buku masak yang dicetak masih mendominasi daripada karya elektronik.

Menurut Cointreau, dengan kondisi dunia sekarang ini yang sedang sulit dihantam krisis, orang-orang membutuhkan kenyamanan. Nah, buku masak, kata dia, ibarat penawar bagi kesulitan hidup sekaligus media untuk mewujudkan kebahagiaan. "Buku masak membuat kita bermimpi, merasa nyaman, dan membawa kita berkelana," ujar Cointreau.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya