PM Italia Matteo Renzi Mundur

Thomas Harming Suwarta
09/12/2016 06:21
PM Italia Matteo Renzi Mundur
(AP/Alessandra Tarantino)

PERDANA Menteri (PM) Matteo Renzi menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya Rabu (7/12) waktu setempat.

Ia menegaskan keinginannya untuk memimpin partai pendukungnya, Partai Demoktrasi, untuk menghadapi pemilihan umum (pemilu) yang digelar lebih awal.

Setelah berkonsultasi untuk membentuk pemerintah sementara pada Kamis (8/12) waktu setempat, Renzi, 41, langsung menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Sergio Mattarella setelah mengalami kekalahan dalam referendum.

Sebelum mengembalikan sejumlah kunci Palazzo Chigo, kantor kepresidenan Italia, Renzi memimpin pertemuan yang dihadiri para eksekutif Partai Demokrat (PD).

"Kami tidak takut kepada apa pun atau siapa pun, jika partai lain ingin mengikuti pemilu... PD tidak takut demokrasi atau pemilu," kata Renzi yang merujuk tuntutan oposisi yang mendesak mempercepat satu tahun pemilu yang dijadwalkan awal 2018.

Ironisnya, pemerintah Renzi berakhir saat pemerintahnya mendapat dukungan suara kepercayaan di Senat.

Namun, posisinya melemah dengan kekalahan dalam referendum yang digelar Minggu (4/12).

Suara dukungan dari Senat telah mempersingkat diskusi panjang terkait persetujuan anggaran Italia 2017.

Tugas yang belum tuntas tersebut telah membuat Mattarella bertanya pada Renzi dan diminta untuk menunda kunjungannya selama beberapa hari.

"Undang-undang anggaran telah disetujui. Pengunduran resmi pada pukul 19.00. Terima kasih kepada semua orang dan dan hidup Italia!" tulis Renzi di media sosialnya.

Pengurus partai

Setelah menggelar pertemuan di kantor pusat PD, Renzi telah menyatakan bertanggung jawab atas kekalahan dalam referendum.

Namun, dia tidak pernah mengindikasikan untuk mempertimbangkan mundur dari jajaran pemimpin PD.

Renzi juga menegaskan dirinya akan menghabiskan waktu pada Kamis (8/12) yang bertepatan dengan hari libur untuk merayakan ulang tahun neneknya yang ke-86.

"Kita harus berterima kasih pada orang tua," kata dia yang mengacu pada para pensiunan yang mendukungnya dalam referendum.

"Dan, besok saya mengharapkan mendapat keberuntungan dalam pertandingan Playstation melawan anak saya daripada saya berada di sini (kantor kepresidenan)," jelas Renzi.

Dalam beberapa kali pidato, Renzi seperti tengah berkampanye dalam pemilu.

Bahkan mantan Wali Kota Florence menyebut Renzi telah mewarisi Itali dengan pajak yang lebih rendah dan masyarakat mendapat hak yang lebih.

Sebagai perdana menteri, Renzi telah memainkan peran penting terutama pascaterjadi gempa dahsyat antara Agustus dan Oktober.

Intinya, dia disebutkan sebagai pemimpin pemerintahan yang berhasil.

Sebagai sekretaris jenderal PD, Renzi telah sukses mengendalikan pengurus partainya.

Bahkan, dia sukses memakzulkan pendahulunya Enrico Letta pada Februari 2014.

Sementara itu, kalangan oposisi menilai kekalahan dalam referendum menunjukkan tidak adanya kepercayaan dalam koalisi partai sayap kiri tengah.

"Kami tidak akan menggelar pemilu yang dipercepat atau kami pun tidak akan turun ke jalanan," kata Matteo Salvini, pemimpin partai sayap kanan Liga Utara (NL) pada Rabu (7/12).

"Kami tidak akan mencemooh 32 juta orang yang telah menyalurkan suara mereka pada Minggu (4/12).

(AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya