KANDIDAT calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, kemarin, untuk pertama kali mengikuti debat dalam kampanye pemilu presiden AS 2016 mendatang. Lima kandidat bertarung dalam debat yang digelar di Las Vegas tersebut. Dalam debat yang disiarkan langsung CNN, beberapa hal seperti permasalahan ekonomi dan konflik Suriah diangkat menjadi topik utama. Isu terkait undang-undang kepemilikan senjata api juga menjadi fokus perdebatan. Hillary Clinton yang merupakan kandidat terkuat dalam persaingan tampil luar biasa dengan komentar-komentar yang lugas dan percaya diri.
Dalam tanggapannya terkait krisis di Suriah yang tidak kunjung berakhir, Clinton mengatakan AS seharusnya mengambil peran lebih untuk menangani permasalahan tersebut. Ia juga mengatakan kehadiran Rusia di Suriah sejak akhir September silam hanya membuat keadaan semakin tidak terkendali. "Saya pikir penting bagi AS untuk memberi tahu Putin bahwa hal yang mereka lakukan tidak bisa diterima. Keha-dirannya di Suriah menciptakan kekacauan lebih banyak," ujar Clinton. Mantan Menteri Luar Negeri AS itu mengatakan, jika terpilih menjadi presiden, ia akan menyiapkan cara untuk menghentikan Rusia di Suriah.
Perlindungan sosial Terkait dengan perekonomian, istri mantan Presiden Bill Clinton itu tidak setuju dengan rival utamanya, Bernie Sanders, yang mengusulkan agar AS mengikuti langkah negara-negara Skandinavia. "Apa yang dikatakan Senator Sanders mengenai ketidakadilan di AS masuk akal, tetapi kita bukan Denmark," tegas Clinton. Sanggahan Clinton akan isu ekonomi bermula saat San-ders mengatakan AS sebaiknya meniru negara-negara sosialis Eropa seperti Denmark, Swedia, dan Norwegia yang mempunyai sistem perlindungan sosial yang sangat baik.
Kepemilikan senjata api Terkait dengan undang-undang kepemilikan senjata api, Clinton menganggap pendirian Sanders terhadap isu tersebut terlalu lembek. Clinton, seperti Presiden AS Barack Obama, menuntut pengawasan senjata api lebih ketat. Ia pun menyerang Sanders yang pada 2005 memberikan suara untuk melindungi produsen senjata api dari tuntutan hukum karena kelalaian. Kendati sempat saling serang, dua kandidat terdepan itu sempat berjabat tangan ketika skandal surat elektronik (surel) yang sempat menyandung Clinton dibahas dalam debat selama 2 jam itu.
"Sudah cukup tentang surel! Warga AS sudah bosan mendengar hal itu," ujar Sanders. Clinton tersandung skandal tersebut setelah harian New York Times melaporkan ia menggunakan akun surel pribadinya untuk semua korespondensi urusan pemerintah selama menjabat sebagai menteri luar negeri. Debat tersebut, selain Clinton dan Sanders, juga diikuti tiga kandidat lain, yaitu Martin O'Malley, Lincoln Chafee, dan Jim Webb. Baik dalam jajak pendapat maupun ajang debat, ketiga kandidat tersebut terlihat sangat sulit untuk dapat menyaingi dua kandidat utama.