FEBRUARI lalu, Rawshan Ara, 28, warga Desa Kalai, Bangladesh, nekat menjual ginjalnya demi membayar sewa ladang yang ia tanami padi dan kentang untuk makanan sehari-hari keluarga. Kondisi suami yang sakit-sakitan serta biaya pendidikan anak yang kian melambung memaksanya melakukan hal ilegal itu. Perempuan itu mengaku sempat pergi ke Ibu Kota Dhaka untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan buruh garmen, tapi upahnya tidak menutupi kebutuhan.
"Saya lelah hidup miskin," kata Ara. Meski ditentang keluarga, Ara pergi sendirian melintasi perbatasan Bangladesh-India untuk melakukan operasi. Dia melakukan perjalanan dengan paspor dan kartu identitas palsu yang disediakan makelar agar hasil tes darah sama dengan penerima ginjal. Pasalnya, memang hanya pihak keluarga yang diperbolehkan mendonorkan ginjal. "Mereka mengubah nama saya menjadi Nishi Akter sehingga saya bisa berpura-pura menjadi sepupunya. Mereka bilang ini dibutuhkan untuk meyakinkan klinik dan dokter di India yang mengangkat ginjal saya," papar Ara.
Dari penjualan ginjalnya, Ara dibayar US$4.500 (Rp61 juta). Selain membayar sewa lahan, uang itu juga digunakan untuk membayar guru bagi putrinya yang bercita-cita menjadi dokter. "Pada hari dioperasi, saya sangat ketakutan. Saya berdoa terus-menerus," imbuhnya. Waktu pun berlalu. Keputusan Ara menjual ginjalnya mulai menuai risiko. Ara kini tidak bisa lagi mengangkat benda berat, mudah lelah, dan sulit bernapas. "Menjual ginjal adalah kesalahan besar. Sekarang saya malah butuh obat yang mahal untuk tetap sehat," sesalnya.
Ara toh bukan satu-satunya anggota keluarga yang menjual ginjal. Polisi menduga Ara pun didesak oleh kerabat. Pasalnya, orang yang telah menjual ginjal umumnya menjadi perantara dan mendapatkan komisi US$3.000 (Rp40 juta) jika dapat merekrut donor lain. Biasanya target pertama ialah keluarga, kemudian tetangga. "Tahun ini sudah ada 40 orang dari Kalai yang menjual ginjal mereka," kata Kepala Polisi lokal Sirajul Islam.
Sejak 2005, menurut dia, sudah 200 warga Kalai menjual ginjal. Selain itu, ada 12 warga desa hilang dan diduga tengah bepergian ke rumah sakit India dekat perbatasan untuk dioperasi guna diambil ginjal mereka. Bulan lalu, polisi membekuk gembong perdagangan ginjal ilegal setelah seorang anak berusia enam tahun diangkat ginjalnya lantas dibuang ke sebuah kolam. Sejak itu, otoritas melakukan kampanye yang bertujuan agar warga tidak lagi menjual ginjal. Namun, banyak warga Kalai ragu perdagangan ginjal bisa berhenti. Beberapa pelaku yang tertangkap kerap kembali memperdagangkan ginjal akibat sistem peradilan yang tidak efisien.