RUSIA bereaksi dengan marah saat merespons temuan tim investigasi pimpinan Belanda soal tragedi pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH17. Temuan itu disebut Rusia 'sangat meragukan' dan 'hanya pembenaran dari tuduhan yang sudah lebih dulu ditetapkan'.
Jauh sebelum temuan investigasi itu diumumkan, Amerika Serikat (AS) telah lama menuduh kelompok pro-Rusia berada di balik serangan yang menyebabkan jatuhnya MH17. Gedung Putih berkeras pesawat MH17 ditembak jatuh rudal yang diluncurkan dari wilayah yang diduduki kelompok separatis pro-Rusia di Ukraina Timur.
Pada konferensi media di Moskow, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut AS sudah sejak awal terburu-buru memaparkan penilaian soal tragedi MH17. Penilaian itu, diutarakan Zakharova, tidak berdasarkan hasil penyelidikan.
"Yang dipaparkan sejak awal itu bertujuan membuat publik bingung dan di sisi lain membentuk opini publik yang secara efektif bisa kita sebut propaganda," jelas Zakharova sebagaimana dikutip media Rusia, RT. Dia juga menekankan AS telah mengonfirmasi posisi jauh sebelum laporan temuan tim Belanda dipublikasikan.
Pada Selasa (13/10) waktu setempat, tim investigasi Dewan Keselamatan Belanda mengumumkan kesimpulan penyelidikan yang telah menyatakan bahwa pesawat komersial MH17 rute Amsterdam, Belanda-Kuala Lumpur, Malaysia, itu ditembak rudal Buk buatan Rusia yang diluncurkan dari zona konflik Ukraina.
Meski menurut temuan pesawat itu disebut ditembak, kesimpulan penyelidikan tidak mengidentifikasi pihak mana yang meluncurkan rudal ke arah Boeing 777 pada 17 Juli 2014 tersebut sehingga menewaskan seluruh penumpang beserta awak pesawat yang jumlahnya mencapai 298 orang.
"Penerbangan MH17 jatuh akibat ledakan sebuah hulu ledak di luar pesawat arah kiri kokpit," ungkap Ketua Dewan Keselamatan Belanda Tjibbe Joustra dalam konferensi pers. Ia menambahkan, "Hulu ledak itu sesuai dengan jenis rudal yang diinstal dalam sistem rudal Buk permukaan-ke-udara."
Kemungkinan Untuk dapat mencapai kesimpulan itu, tim melaksanakan proses penyelidikan intensif termasuk menelaah area seluas 320 kilometer persegi di wilayah timur Ukraina.
Penyelidik menyatakan rudal Buk itu diluncurkan dari wilayah tersebut, tapi tidak memastikan pihak mana yang mendudukinya.
Puing pesawat MH17. Foto: AP/DMITRY LOVETSKY
Joustra menyatakan kemungkinan bahwa rudal itu bisa saja diluncurkan dari wilayah kendali kelompok separatis pro-Rusia yang memerangi tentara Ukraina. "Ini memang daerah dengan perbatasan-perbatasan yang mengalami situasi fluktuatif, tetapi itu merupakan wilayah tempat kelompok pro-Rusia telah menetapkan hukumnya," ujar Joustra kepada media Belanda setelah pertemuan dengan anggota parlemen.
Pada saat merilis laporan temuan penyelidikan, Joustra juga mengecam Kiev (Ukraina) karena tidak menutup wilayah udara di atas zona konflik. Pada hari MH17 meledak di udara, ada sekitar 160 penerbangan komersial yang mengudara di zona itu.
"Padahal, sesungguhnya ada alasan yang cukup bagi pihak berwenang Ukraina untuk menutup ruang udara di atas bagian timur negara mereka," kata Joustra.
Adapun Kiev menyerang balik laporan tim investigasi dengan menuding temuan mereka 'tidak berdasar'. Pemerintah Ukraina menyebut sudah dalam proses secara bertahap menutup semua koridor langit dengan ketinggian 9.750 meter dan kurang.(AFP/BBC/I-1)