PERSATUAN dokter Australia, kemarin, mendesak pemerintah Australia untuk membebaskan anak-anak yang berada di pusat penampungan pengungsi atau suaka. Menurut mereka, anak-anak yang telah mendapat perawatan dokter seharusnya tidak layak dikembalikan ke pusat penampungan yang kondisinya sangat memprihatinkan sekaligus membahayakan. Ribuan warga Australia pun terus menggelar aksi unjuk rasa selama sepekan mendesak kamp pengungsi di pulau di Pasifik tersebut ditutup. Mereka menilai kamp itu tidak ubahnya sebuah penjara.
Sikap serupa disampaikan petugas medis di Rumah Sakit Royal Children, Melbourne. Mereka menolak menangani pasien pencari suaka jika anak-anak harus dikembalikan ke penampungan yang terisolasi itu. Sikap serupa juga dilakukan Asosiasi Medis Australia (AMA) dan Royal Australasian College of Physicians (RACP). Presiden AMA Brian Owler memperkirakan sekitar 200 orang anak di pusat penampungan pengungsi. Setengah dari anak-anak pengungsi berkeliaran di lepas pantai Pulau Nauru.
Owler menyaksikan sendiri banyak anak dari keluarga pengungsi yang menderita secara psikologis. "Jika ada anak-anak yang datang ke rumah sakit, kami mengkhawatirkan mereka bila harus kembali ke lingkungan yang membahayakan (kamp pengungsi) dan mereka rentan mengalami kekerasan." Senada dengan Owler, Presiden RACP Nick Tallen menyebut seiring waktu, publik Australia telah menyaksikan dan mendengar alasan yang keliru terkait dengan anak-anak di pusat penampungan pengungsi. "Mengenai kesehatan dan kondisi anak-anak seharusnya tidak ada toleransi. Anak-anak seharusnya tidak berada di penampungan suaka," ujarnya.
Para pencari suaka awalnya datang menggunakan perahu-perahu seadanya ke Australia. Mereka ditangkap aparat 'Negeri Kanguru' dan kemudian ditempatkan di kamp pengungsian yang berada di Pulau Nauru, Papua Nugini. Meskipun kebijakan Australia terbilang ketat, upaya tersebut dianggap telah mengurangi jumlah kapal pengungsi yang tenggelam di tengah laut. Di sisi lain, organisasi hak asasi manusia mengecam kebijakan pemerintah Australia yang telah mengabaikan kemanusiaan dan pelanggaran hukum. Mereka menuduh pemerintah Australia tidak memperdulikan sisi kemanusiaan. Australia dituduh lebih mementingkan kedaulatan.
Belum diubah Saat menanggapi hal itu, Perdana Menteri (PM) Australia Malcolm Turnbull mengaku siap memberikan perhatian kepada kamp pengungsi di wilayah Pasifik tersebut. Namun, pemerintah Australia masih belum berniat mengubah kebijakan yang terkait dengan kamp tersebut dalam waktu dekat. "Kami mengetahui kebijakan perlindungan perbatasan kami ketat. Kami juga mengetahui beberapa orang menganggap hal ini kasar. Tapi ini sudah terbukti menjadi cara satu-satunya menghentikan kematian mereka di lautan dan memastikan kedaulatan dan perbatasan kami aman," kata Turnbull di hadapan para anggota parlemen, kemarin. Kini kamp pengungsi milik pemerintah Australia di Pulau Nauru menampung 1.992 orang pada pertengahan 2013. Namun, jumlah pengungsi yang datang ke Australia menurun sejak pemerintah konservatif terpilih pada September 2013.