Gelar Nobel Suu Kyi Dipertanyakan

AFP/Ths/I-3
05/12/2016 06:57
Gelar Nobel Suu Kyi Dipertanyakan
(Aung San Suu Kyi -- AP/Gemunu Amarasinghe)

PERDANA Menteri Malaysia Najib Razak terus mendesak pemimpin nasional Myanmar Aung San Suu Kyi segera mengambil langkah untuk menghentikan kekerasan terhadap komunitas muslim Rohingya di Myanmar. Najib menyindir gelar Nobel Perdamaian yang disandang Aung San Suu Kyi yang dinilai kontras dengan apa yang dialami etnik Rohingya.

“Apa gunanya menerima hadiah Nobel? Kami ingin memberi tahu Aung San Suu Kyi, sudah cukup, hentikan. Kita harus dan kita akan membela muslim dan Islam,” ujar Najib sembari massa meneriakkan “Allahu Akbar.” Hal itu dikatakan Najib saat dia bertemu ribuan orang yang melakukan aksi menentang kekerasan yang dilakukan tentara Myanmar tersebut.

Najib juga meminta Organisasi Kerja Sama Islam untuk segera bertindak. “Segera lakukan sesuatu. PBB juga harus melakukan sesuatu. Dunia tidak bisa duduk dan menonton genosida yang terjadi,” kata Najib.

Baru-baru ini mayoritas muslim Malaysia melancarkan kritik terhadap Myanmar atas penanganan krisis Rohingya. Malaysia sebelumnya juga sudah memanggil duta besar Myanmar. Sementara itu, aksi demonstrasi terus digelar di kedutaan besar Myanmar di Kuala Lumpur. Malaysia juga telah meminta ASEAN, untuk mendesak dengan cara meninjau ulang keanggotaan Myanmar. Kementerian luar negeri Malaysia pun sepakat dengan PBB yang menuding Myanmar telah terlibat dalam upaya ‘pembersihan etnik’.

Dalam krisis kemanusiaan di Myanmar ini, setidaknya lebih dari 10 ribu etnik muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Myanmar sendiri telah membantah tudingan telah melakukan ‘pembersihan etnik’. Mereka menilai tuding-an sepihak itu hanya usaha menyudutkan pemerintah Myanmar.

Namun, di tengah langkah Najib merespons situasi krisis di Myanmar, para pengamat menyampaikan respons negatif. Mereka menilai hal tersebut hanya menjadi cara Najib untuk mencari simpati di tengah tuduhan yang ditujukan kepada dia terkait skandal korupsi di 1MBD.

James Chin, direktur Institute Asia di University of Tasmania, mengatakan bahwa Najib seolah tengah menaikkan posisi tawarnya sebagai pemimpin Islam.

Pakar politik Malaysia dari Universitas Turki Bridget Welsh sepakat dengan James. Menurutnya, jika pemerintahan Najib benar-benar peduli dengan Rohingya, seharusnya mereka memeriksa ulang bagaimana perlakuan pemerintah terhadap masyarakat Malaysia sendiri. “Najib sedang mencari sesuatu untuk membuatnya terlihat bagus dan isu Rohingya hanyalah alat untuk itu,” katanya. (AFP/Ths/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya