PIGURA berisi foto pendiri Korea Utara (Korut), Kim Il-sung, digantung pada dinding di atas papan tulis sebuah ruang kelas. Dua simbol yang dihiasi ukiran nama Kim juga terpampang di atas pintu masuk kelas. Semua itu demi mengenang sang pendiri Korut. Bukan, itu bukan ruang kelas di sebuah sekolah di Korut, melainkan sebuah sekolah yang terletak di Altanbulag, Provinsi Tov, di Mongolia. Kota itu berjarak sekitar 50 kilometer dari ibu kota Mongolia, Ulan Bator. Ya, selama lebih dari 50 tahun, anak-anak di wilayah stepa di Mongolia itu memang belajar di sebuah sekolah yang dibangun Korut, yakni negara yang dikenal terisolasi dan miskin.
"Bangunan sekolah ini memiliki asal usul sejarah Perang Korea," ujar kepala sekolah, Deshigiin Chuluunbat. Saat Perang Korea terjadi, kisah Chuluunbat, Mongolia merupakan salah satu negara yang mengirimkan bantuan berupa kuda dan makanan ke Pyongyang, Korut. Negara yang terletak di timur Asia itu juga bersedia mengasuh anak-anak asal Korut yang kehilangan orangtua mereka akibat perang. "Korea Utara membalas bantuan itu dan membangun sekolah ini," papar Chuluunbat sambil mengatakan renovasi terakhir dilakukan Korut di kelas fisika pada 2012.
"Renovasi yang dilakukan saat itu juga menandai 100 tahun kelahiran Kim," lanjutnya. Renovasi tersebut, seingat Chuluunbat, juga dilakukan dengan sebuah upacara khidmat. Seluruh peserta upacara bertepuk tangan serempak dan melakukan penghormatan terhadap sang pendiri negara. "Benar, peristiwa itu benar-benar terjadi," ujar Andrew Guarino, warga negara Amerika Serikat (AS) yang telah menjadi relawan guru bahasa Inggris di sekolah itu selama dua tahun. Sekolah yang didirikan Korut pada 1961 tersebut memiliki sekitar 300 murid yang berusia antara enam dan 18 tahun.
Beberapa tinggal di asrama, sedangkan yang lainnya tinggal sebagai nomaden sebagaimana orangtua mereka di wilayah stepa. Mereka menggembala ternak. Chuluunbat mengatakan penduduk di wilayah tersebut tidak peduli urusan politik. "Penduduk tidak memperhatikan atau memiliki kepentingan di dalamnya. Mereka menganggap bekerja sama dengan Korut ialah hal yang baik dan mereka bisa memiliki sekolah yang besar seperti ini dari Korut."
Unik Lembaga penelitian yang bermarkas di Washington, AS, Brooking Institute, menyatakan Mongolia merupakan satu-satunya negara di Asia Timur Laut yang memiliki hubungan baik dengan Korea Utara dan Korea Selatan sekaligus. Selain itu, Mongolia menikmati hubungan diplomatik dengan Tiongkok, Rusia, dan AS. Mongolia, menurut paparan lembaga Brooking Institute, memang sangat unik. "Dengan apa yang mereka lakukan, Mongolia bisa saja menjadi Helsinki yang baru atau menjadi Jenewa yang baru," ujar D Shurkhuu, peneliti lain dari Institute of International Affairs, Akademi Sains Mongolia.
Ibu kota Finlandia, Helsinki, melalui Perjanjian Helsinki (1975), merupakan kota yang dijadikan tempat untuk meredakan ketegangan Perang Dingin. Jenewa di Swiss selama puluhan tahun telah menjabat pusat negosiasi kunci internasional. yang diungkapkan Shurkhuu bukan tanpa alasan. Pasalnya, Mongolia juga pernah berperan sebagai tuan rumah negosiasi yang dikenal dengan Dialog Ulan Bator. Dalam pertemuan itu, negara Mongolia yang diapit Tiongkok dan Rusia itu menengahi masalah yang terjadi antara Jepang dan Korut.
John Delury, pakar Tiongkok dan Asia Timur Laut di Universitas Yonsei di Seoul, Korea Selatan, memuji upaya Ulan Bator tersebut. Ia mengatakan platform yang diberikan Mongolia ialah hal yang sangat berharga mengingat pemerintah Amerika Serikat hampir tidak mampu berbicara dengan Korut sama sekali. "Anda perlu melakukan beberapa dialog dasar untuk memahami posisi Anda dan Mongolia mampu menempatkan dirinya di wilayah yang netral," kata Delury.
Presiden Mongolia Tsakhiagiin Elbegdorj yang memegang peran kunci dalam transisi demokrasi negara tersebut berpendapat tidak ada tirani yang berlangsung selamanya. "Lebih baik hidup dengan jalan pilihan sendiri walaupun kenyataannya pahit daripada hidup menyenangkan, tetapi harus mengikuti pilihan orang lain," ujar Elbegdorj saat mengunjungi Universitas Kim Il-sung, Pyongyang, Korut, pada 2013. Sayangnya, Elbegdorj tidak sempat pula bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un. Menurut pakar Tiongkok, John Delury, "Kenyataan bahwa Elbegdorj tidak bertemu dengan pemimpin Korut saat itu menjadi pengingat bahwa upaya Mongolia sebagai pihak netral pun terbatas."