PBB Sidang Darurat Bahas Aleppo Timur

AFP/Ths/I-1
01/12/2016 08:09
PBB Sidang Darurat Bahas Aleppo Timur
(Warga Suriah melarikan diri dari Aleppo Timur berjalan melalui sebuah jalan di Masaken Hanano, bekas daerah yang dikuasai pemberontak yang direbut kembali oleh pasukan rezim pekan lalu, pada Rabu, (30/11). -- AFP PHOTO / George Ourfalian)

SETIDAKNYA 50 ribu orang melarikan diri dari Allepo Timur dalam empat hari terakhir, setelah sepertiga daerah yang semula dikuasai kelompok pemberontak itu berhasil diambil alih pasukan pemerintah.

Laporan Kelompok Pemantau Hak Asasi Manusia di Suriah (SOHR), kemarin, menyebutkan dari 50 ribu warga yang melarikan diri, sekitar 20 ribu mencari perlindungan ke arah barat kota yang disiapkan pemerintah. Sekitar 30 ribu lainnya bergerak ke tempat aman yang disediakan pasukan Kurdi yang juga disepakati pemerintah seperti di daerah Sheikh Maqsud di bagian utara kota.

Dalam serangan masif kali ini, pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad setidaknya sudah menyita sepertiga Aleppo Timur dan membuat pasukan pemberontak mundur ke kawasan yang dinilai strategis, termasuk untuk melakukan perlawanan kembali.

Benteng pertahanan pemberontak yang sudah berada dalam pengepungan militer Suriah selama lebih dari empat bulan juga dikuasai militer Suriah. Pengepungan benteng ini membuat pasokan bantuan internasional dan stok pangan ke daerah Aleppo Timur terhambat beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, wilayah yang dulunya merupakan lokomotif ekonomi Suriah tersebut pada 2012 jatuh ke tangan pemberontak. Pada bulan September lalu, pasukan pemerintah pimpinan Presiden Bashar al-Assad mengumumkan untuk merebut kembali Aleppo Timur dan hal tersebut berhasil dengan baik sehingga membuat pasukan pemberontak terdesak.

Sementara itu, PBB mengutuk keras kekerasan yang terjadi di Aleppo Timur yang kini memaksa ribuan warga sipil harus melarikan diri. Dewan Keamanan (DKK) PBB pun langsung menggelar pertemuan darurat kemarin di New York untuk merespons krisis kemanusiaan di Aleppo.

Duta Besar PBB untuk Perancis Francois Delattre mengatakan, “Prancis dan mitra-mitranya tidak bisa tinggal diam dalam menghadapi apa yang bisa disebut sebagai salah satu pembantaian terbesar penduduk sipil sejak Perang Dunia II.”

Hilangnya Aleppo Timur menjadi kekalahan terburuk bagi pemberontak sejak konflik Suriah meletus lebih dari lima tahun yang lalu. Pihak oposisi terus kehilangan wilayahnya dalam beberapa bulan terakhir bersamaan dengan intervensi pasukan pemerintah yang didukung militer Rusia sejak September 2015.

Setidaknya, selama serangan yang dilakukan secara besar-besaran sejak 15 November lalu, lebih dari 250 warga sipil tewas di Aleppo Timur, termasuk 30 anak.

Pegiat HAM Amnesty International mendesak pemerintah Suriah untuk melindungi warga sipil di daerah Aleppo Timur.

“Mengingat sejarah pemerintah Suriah yang panjang dan kelam, serta adanya penahanan yang sewenang-wenang dan penghilangan paksa pada skala besar, warga sipil diharapkan agar benar-benar dilindungi,”tegas Wakil Direktur Amnesty Internasional di Beirut Samah Hadid. (AFP/Ths/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya