Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
Blokade ketat pemerintah Myanmar membuat media dan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional harus berpikir keras untuk bisa masuk ke Negara Bagian Rakhine, yang bergolak oleh aksi genosida tentara negeri itu terhadap etnik muslim Rohingya.
Blokade itu juga membuat etnik muslim Rohingya hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan. Mereka kelaparan, kedinginan, dan sangat ketakutan.
“Warga Rohingya di sana kelaparan dan ketakutan, apalagi dengan orang asing. Saat kami datang, mereka takut. Tapi, setelah tahu kami mau beri bantuan, mereka langsung mengerubungi kami,” ungkap Eko Sulistyo, relawan yang tergabung dalam Lembaga Kemanusiaan Nasional Indonesia, PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) dalam wawancara dengan Media Indonesia, kemarin.
Bukan perjalanan yang mudah untuk sampai ke Rakhine. Eko dan rekannya, M Kaimuddin, berhasil sampai di wilayah bergolak itu dengan menyamar.
“Kami tiba di Yangon, Rabu (23/11). Namun, di sana mitra-mitra lokal langsung angkat tangan untuk mengantar ke Negara Bagian Rakhine. Ada juga 4 orang dari lembaga kemanusiaan Indonesia yang datang, tapi mereka takut ke sana,” tutur Eko.
Lalu, mereka berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk dapat masuk Rakhine dengan alasan untuk melihat dua proyek sekolah di sana. Sambil menyelam minum air, menurut Eko.
“Etnik Rohingya, terutama semenjak konflik di Maungdaw, belum pernah dapat bantuan,” lanjutnya.
Akhirnya pada Jumat (25/11), Eko dan rekan berhasil menuju ke markas militer Sittwey, Rakhine karena situasi diakui agak longgar. Dua sekolah yang dijadikan tameng itu letaknya bersebelahan dengan markas militer dan sudah terbangun 100%, tinggal menunggu furnitur.
Di sana, Eko dan pejabat Rakhine bernegosiasi tentang cara menyalurkan bantuan yang dibawa, yakni 3,5 ton beras, sekitar 160 pakaian untuk anak-anak dan orang tua, dan sekitar 300 kain untuk selimut atau hijab.
Bantuan itu disalurkan lewat jalan-jalan tikus dan hanya cukup untuk 166 kepala keluarga di kamp pengungsi Kya Pin, Sittwey.
“Masuk ke situ juga harus menyamar karena hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar di pesisir pantai dan dijaga barikade militer. Kami sempat pakai baju biasa dan sarung seperti warga di sana,” imbuh Eko. (Irene Harty/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved