Hadiah Nobel untuk Sastra Testimoni Sejarah

AFP/Aya/X-5
09/10/2015 00:00
Hadiah Nobel untuk Sastra Testimoni Sejarah
()
PENULIS asal Belarus, Svetlana Alexievich, 67, dinobatkan sebagai peraih Hadiah Nobel Bidang Sastra 2015 atas karyanya yang mengangkat tema bencana nuklir Chernobyl (Voices from Chernobyl) dan Perang Dunia II (War's Unwomanly Face).

Fitur narasi dengan keragaman sudut pandang dan suara (polifoni) mengantarkan Alexievich menjadi perempuan ke-14 yang meraih Hadiah Nobel sejak 1901.

Dalam karyanya, Alexievich berkisah menggunakan testimoni saksi mata yang nyata di tempat kejadian sebagai sudut pandang orang pertama.

Mulanya, karyanya tidak dipublikasi karena hanya fokus pada tragedi personal dan tidak menekankan pada peran Partai Komunis.

Namun, akhirnya karya itu terbit pada 1985 berkat perestroika.

Pada 1998, Alexievich menerbitkan karyanya bertajuk Voice from Chernobyl, sebuah kumpulan kisah orang yang bekerja saat pembersihan sisa bencana nuklir Chernobyl pada 1986.

Teknik narasi sudut pandang orang pertama terus digunakan untuk karya berikutnya dalam War's Unwomanly Face.

Alexievich mulai merekam suara seorang tentara perempuan di PD II saat ia masih bekerja di harian lokal pada 1970.

"Saya harus menangkap individunya saat mereka terguncang. Ini sangat penting untuk mendengarkan seseorang berbicara. Telinga saya selalu siaga," kata Alexievich kepada majalah Rusia, Ogonyok.

Sekretaris Tetap Swedish Academy Sara Danius menilai catatan testimoni saksi mata menawarkan sejarah manusia yang sebelumnya tidak diketahui.

"Secara bersamaan, ia menawarkan sejarah emosi. Sebuah sejarah jiwa," kata Danius.

Sejak Lukashenko memimpin pada 1994, buku-buku Alexievich tidak pernah dipublikasikan di Belarus karena ia menulis karyanya menggunakan bahasa Rusia, bukan bahasa Belarus.

Hal itu memancing kejengkelan para elite intelektual dan sastra.

"Saya hanya menulis dengan bahasa Rusia dan melihat diri saya sebagai bagian dari budaya Rusia. Bahasa Belarus sangat rural dan tidak dewasa sebagaimana sastranya," ujarnya beralasan kepada harian Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung.

Ia pun memilih untuk bergabung dengan beasiswa penulis di Italia, Jerman, Prancis, dan Swedia.

Atas karya-karyanya yang sarat akan sisi kemanusiaan, terutama mereka yang tertimpa bencana atau peperangan, Alexievich dinobatkan Akademi Swedia sebagai peraih Hadiah Nobel Sastra 2015 untuk karyanya yang polifoni sekaligus sebagai 'monumen untuk masa-masa penderitaan dan keberanian'.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya