Tokoh Sayap Kiri Siap Hadir

Indah Hoesin
30/11/2016 06:26
Tokoh Sayap Kiri Siap Hadir
(Warga mengantre untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh revolusi Fidel Castro di Lapangan Revolusi, Havana, Kuba, Senin (28/11). -- AFP PHOTO/RONALDO SCHEMIDT)

PARA tokoh pengidola Fidel Castro dari kelompok sayap kiri di Amerika Latin siap bergabung dengan warga Kuba dalam upacara penghormat­an terakhir mendiang Castro yang dikenal sebagai tokoh komunis pembakar semangat pada Selasa (29/11) setempat.

Sekitar 25 pemimpin dari A­merika Latin, Karibia, dan Afrika terbang ke Kuba untuk menghadiri upacara pemakaman sekaligus pertemuan besar yang akan dihelat di Lapangan Revolusi, Havana.

Salah satunya ialah Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang memiliki hubungan dekat dengan Castro. Selama ini, Maduro telah membantu perekonomian Kuba dengan menjual minyak harga murah.

Selain Maduro, Presiden Ekuador Rafael Correa, Presiden Bolivia Evo Morales, dan Presiden Nikaragua Daniel Ortega telah menyatakan siap menghadiri upacara tersebut. Mereka disebut sebagai anak-anak ideologi dari Castro.

Beberapa pemimpin dari kewasan Afrika juga melaporkan turut hadir termasuk pemimpin veteran Zimbabwe Robert Mugabe, penguasa Guinea Ekuator Teodoro Obiang Nguema, dan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma.

Hanya PM Yunani
Di sisi lain, satu-satunya pemimpin Eropa yang hadir yakni Perdana Menteri (PM) Yunani Alexis Tsipras yang dikenal sebagai tokoh ber­aliran kiri.

Sebaliknya, sejumlah pemimpin negara Barat lainnya seperti Amerika Serikat (AS), Jerman, Kanada, dan Prancis memilih tidak hadir dan mereka hanya mengirimkan perwakilan masing-masing.

Ketidakhadiran para pemimpin Barat menunjukkan sikap mereka yang memegang warisan Perang Dingin. Negara-negara Barat masih memandang Castro sebagai seorang diktator dan memenjarakan banyak lawan politiknya.

Pada Senin (28/11) lalu, ratusan ribu penduduk Kuba telah memenuhi Lapangan Revolusi di Kota Havana untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Castro.

Selama mendiang Castro yang dijuluki ‘El Comandante’ disemayamkan sepekan, ribuan warga Kuba terus mengantre panjang. Mereka melewati foto hitam putih Castro muda yang memegang senapan dan menggendong ransel.

Kerumunan pelayat berjalan tanpa berkata-kata dan beberapa dari mereka mengambil gambar dengan ponsel. Sejumlah pelayat tidak bisa menahan tangis mereka saat melihat foto Castro di dalam Monumen Pahlawan Kemerdekaan Jose Marti.

Masyarakat pelayat yang berkerumun terus mengalir hingga malam hari. Beberapa pelayat masih mengenakan seragam resmi termasuk anak sekolah, tentara, veteran, dokter, dan petugas bea cukai.
“Kita tahu bahwa komandan kita telah menjadi abadi,” ujar profesor dari sebuah universitas, Pedro Alvarez, 30, dengan wajah sedih.

Stasiun televisi pemerintah Kuba menayangkan sang adik dan penerus Castro, Raul Castro, yang tengah memimpin upacara pribadi di depan guci kayu yang berisikan abu Castro di Gedung Kementerian Pertahanan.

Tayangan itu pertama kalinya dipublikasikan ke masyarakat ‘Negeri Cerutu’ sejak kematian Castro di usia 90 tahun Jumat (25/11) lalu.

Di seluruh pulau, masyarakat Kuba diminta menandatangani sumpah ‘terus berjuang’ untuk re­volusi di ratusan sekolah, rumah sakit, dan bangunan umum lainnya.

Raul yang mengambil alih jabat­an Castro sejak satu dekade lalu dan sejumlah pejabat tinggi juga menandatangani janji yang sama setelah menjalani upacara pribadi.

.Di lain pihak, Presiden terpilih AS Donald Trump mengancam untuk mengakhiri kesepakatan normalisasi hubungan AS dan Kuba. Kecuali, kata dia, Kuba membuat konsesi untuk menghormati hak a­sasi manusia (HAM) dan membuka perekonomian mereka.

“Jika Kuba tidak bersedia untuk membuat kesepakatan yang lebih baik untuk rakyat Kuba, rakyat AS, dan AS secara keseluruhan, saya akan mengakhiri kesepakatan,” ujar Trump melalui media sosial Twitter. (AFP/CNN/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya