PEMERINTAH Guatemala, Selasa (6/10) waktu setempat, mengumumkan korban tewas akibat tanah longsor di Santa Catarina Pinula, Guatemala, bertambah menjadi 171 orang.
Jumlah terakhir dikeluarkan setelah regu penyelamat menemukan lagi 10 jenazah dari timbunan longsoran. "Sejauh ini kami telah menemukan 171 jenazah," ujar ketua tim pencarian, Sergio Cabanas.
Regu penyelamat setempat yang dibantu tim dari Meksiko mengerahkan anjing pelacak untuk mencari korban bencana longsor di daerah labil sekitar 15 km sebelah timur Kota Guatemala, ibu kota Guatemala. Pejabat setempat pesimistis dapat menemukan korban selamat.
Menindaklanjuti bencana tersebut, pejabat Kejaksaan Guatemala mengatakan pihaknya akan menyelidiki untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang menelan ratusan korban jiwa tersebut.
"Kami akan mencari tahu siapa yang tanggung jawab. Siapa yang bertanggung jawab atas konstruksi di daerah itu. Mengapa tidak ada yang mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari tragedi ini," kata jaksa Rotman Perez.
Komisi Penanggulangan Bencana Nasional Guatemala (Conred) mengatakan pihaknya telah memberikan peringatan atas wilayah El Cambray 2 yang menjadi lokasi tragedi mengenaskan tersebut. "Kami telah memberikan peringatan sejak 2009. Terakhir kali, kami melakukannya pada November 2014," ujar seorang pejabat dari Conred.
Pihak Conred mengatakan kondisi tanah di lingkungan yang diapit bawah bukit curam dan sungai itu berbahaya untuk ditinggali.
"Sungai mengikis dasar bukit dan membuatnya sangat tidak stabil," papar pejabat Conred. Conred mengatakan kondisi berbahaya serupa masih mengancam banyak daerah lain di Guatemala.
"Setidaknya terdapat 8.000 lokasi yang terancam bahaya serupa," tambahnya.
Jaksa hak asasi manusia, Jorge de Leon Duque, mengatakan pihaknya telah menyeru kepada pemerintah kota untuk mengevakuasi seluruh keluarga yang masih berada di sekitar wilayah tersebut.
"Bencana ini bisa terjadi lagi. Kita tidak bisa mengizinkan orang untuk tinggal di wilayah dengan kondisi yang berbahaya seperti itu," ujar Duque.
Di sisi lain, sekitar 250 orang masih menginap di dua penampungan milik pemerintah. Mereka juga belum diizinkan pulang ke rumah masing-masing.
Namun sejauh ini,mereka mengeluh karena belum ada kepastian soal relokasi, "Ada longsor, tetapi hanya beberapa tempat," ujar Marco Antonio Pu, 17, yang tinggal sementara di penampungan bersama orangtuanya.
Direktur Conred Alejandro Maldonado mengatakan pihaknya telah menginformasikan kepada Wali Kota Santa Catarina, Tono Coro, pada Desember lalu soal ancaman arus sungai yang bisa membuat tanah longsor. (AFP/Pra/I-3)