Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUASANA duka menyelimuti Kuba di tengah persiapan negara itu untuk melepas pemimpin mereka Fidel Castro yang meninggal Jumat (25/11) waktu setempat dalam prosesi pemakaman yang berlangsung empat hari, kemarin.
Castro yang tercatat sebagai salah satu penguasa terlama di dunia, dan termasuk tokoh paling mencolok dalam sejarah modern, meninggal pada Jumat (25/11) malam di usia 90 tahun.
Sang pemimpin revolusi berhasil bertahan melalui 11 pemerintahan AS dan selamat dari ratusan upaya pembunuhan.
Presiden Raul Castro mengumumkan kematian sang kakak di televisi nasional tanpa menyebutkan penyebab kematiannya.
Bagi kaum pembela revolusi, Castro ialah pahlawan yang melindungi orang-orang biasa dari dominasi kapitalis.
Namun, bagi lawan, termasuk ribuan warga Kuba di AS, dia tiran komunis yang kejam.
Raul mengatakan jenazah kakaknya itu dikremasi Sabtu (26/11), sekaligus menandai hari pertama dari sembilan hari berkabung yang ditetapkan pemerintah.
Serangkaian acara peringatan akan dimulai Senin (28/11) pagi, ketika para warga Kuba diserukan berkumpul di ikon Havana, Lapangan Revolusi.
Abu Castro akan diarak pada prosesi empat hari di penjuru negara, sebelum dimakamkan di bagian tenggara Kota Santiago pada 4 Desember.
Pascakematian Castro, di Havana, ibu kota Kuba, jalan-jalan yang biasanya ramai tampak sepi dan pesta Jumat malam terhenti karena para pengagum Castro larut dalam kesedihan.
"Kehilangan Fidel seperti kehilangan seorang ayah. Ia pembimbing dan suar revolusi ini," ujar Michel Rodriguez, tukang roti berusia 42 tahun.
Namun, tidak seperti di Havana yang muram, Miami, Amerika Serikat, diwarnai perayaan menyusul kematian pemimpin revolusioner yang memerintah dengan tangan besi dan menantang Amerika Serikat (AS) selama setengah abad.
Di jalan-jalan Miami, rumah bagi komunitas Kuba-Amerika terbesar, mayoritas warga larut dalam euforia.
Mereka melambaikan bendera dan menari, memukul-mukul panci dan drum.
"Menyedihkan bahwa orang-orang menemukan sukacita dalam kematian seseorang, tetapi orang itu (Castro) tidak seharusnya lahir," kata Pablo Arencibia, 67, guru yang melarikan diri dari Kuba 20 tahun yang lalu.
"Setan sekarang yang harus ia khawatirkan," tambahnya, karena
"Fidel sedang menuju ke sana dan akan menerima pembalasannya."
Terpolarisasi
Tak hanya di kalangan warga biasa, kematian Castro memunculkan reaksi yang kuat dan terpolarisasi di seluruh dunia.
"Nama negarawan terhormat ini merupakan simbol dari sebuah era dalam sejarah dunia modern," kata Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah telegram kepada Raul Castro.
"Kamerad Castro akan hidup selamanya," kata Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pesan yang dibacakan di televisi.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengirim ucapan belasungkawa dan memuji Castro sebagai pemimpin luar biasa.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekutu utama Kuba di wilayah tersebut, menyatakan, "Fidel, istrahatlah dengan tenang karena kita masih di sini." Sekerumunan orang menangis.
"Di bawah pemerintahan mantan Presiden Castro, Kuba membuat kemajuan di bidang pendidikan, melek huruf, dan kesehatan," kata Sekjen PBB Ban Ki-moon.
Presiden AS Barack Obama mengatakan, "Sejarah akan mencatat dan menilai dampak besar yang dibuat figur istimewa ini pada orang-orang dan dunia di sekelilingnya."
Sementara itu, presiden terpilih AS Donald Trump Castro menyebut Castrol sebagai 'diktator brutal'.
(AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved