PBB Upayakan kembali Perdamaian

AFP/Ihs/I-1
28/11/2016 04:01
PBB Upayakan kembali Perdamaian
(AFP/MOHAMMED HUWAIS)

UTUSAN Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, mengumumkan tawaran baru pembicaraan damai antara pemerintah Yaman dan kelompok pemberontak setelah gencatan senjata terakhir gagal mengakhiri konflik yang telah berlangsung setahun lebih.

Ahmed mengatakan dirinya akan menuju ke Riyadh, Arab Saudi, dan Kuwait untuk mempersiapkan babak baru pembicaraan damai setelah melakukan pembicaraan dengan perwakilan pemberontak Syiah Huthi Yaman dan sekutunya.

Riyadh telah menjadi markas bagi Presiden Yaman, Abedrabbo Mansour Hadi sejak pemberontak yang berhasil menguasai ibu kota Sanaa memaksa dirinya meninggalkan Yaman pada Maret 2015.

Sejak itu, Hadi mendorong Arab Saudi untuk memimpin koalisi Arab untuk melawan kelompok pemberontak.

"Saya siap mengunjungi Presiden Hadi yang tengah berada di Aden jika perlu," ujar Ahmed dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Oman, ONA.

Hadi diketahui tengah berada di Aden dalam kunjungan mendadak ke kota pelabuhan yang menjadi ibu kota sementara Yaman sejak loyalis koalisi berhasil merebut kembali kota tersebut dari pemberontak.

Utusan PBB tersebut juga mengatakan telah menemukan banyak keseriusan dalam pembicaraan dengan perwakilan pemberontak dan sekutunya dari partai mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.

Ahmed mengatakan juga telah berhubungan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry, yang melihat kesempatan bersejarah untuk mencapai perdamaian di Yaman.

Sebelumnya pembicaraan damai telah diselenggarakan di Kuwait pada Agustus lalu.

Namun, pembicaraan itu gagal mencapai kesepakatan.

Gencatan senjata 48 jam yang dinyatakan oleh koalisi telah berakhir pada Senin (21/11) lalu dengan sedikit keberhasilan mengurangi kekerasan.

Kedua belah pihak saling tuduh telah melakukan pelanggaran dalam gencatan senjata yang mulai berlaku pada Sabtu (19/11) lalu.

Gencatan senjata tersebut merupakan upaya internasional terbaru untuk mengakhiri konflik Yaman.

Menurut laporan PBB, konflik Yaman telah menewaskan lebih dari 7.000 orang dan melukai hampir 37 ribu orang sejak Maret 2015. Ratusan ribu warga Yaman lainnya menjadi pengungsi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya