KELOMPOK ekstremis Islamic State (IS) di Suriah bagian utara telah meledakkan monumen Arch of Triumph di kota kuno Palmyra. Aksi terbaru penghancuran situs kuno tersebut dikonfirmasi kelompok aktivis dan pemantau hak asasi saat IS menekankan kampanye mereka untuk meruntuhkan situs warisan berharga. "Arch of Triumph telah dihancurkan. IS telah menghancurkannya," kata Mohammad Hassan al-Homsi, seorang aktivis dari Palmyra.
Dengan mengutip sumber-sumber di lapangan, Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), yang berbasis di Inggris, menyatakan para milisi telah menghancurkan bangunan melengkung itu karena ornamen yang terdapat pada kolomnya dianggap berhala. "Kami telah menerima berita dari lapangan bahwa Arch of Triumph dihancurkan pada Minggu (4/10)," kata direktur lembaga barang antik Suriah, Maamoun Abdulkarim. Itu, lanjut dia, merupakan penghancuran sistematis yang menargetkan seluruh kota.
"Mereka ingin meruntuhkan (kota) sepenuhnya," tambahnya. Abdulkarim juga menyatakan bahwa IS ingin menghancurkan amfiteater juga barisan tiang. "Kami sekarang amat mencemaskan nasib seluruh kota itu," ujar dia. Dalam wawancara dengan kantor berita The Guardian, Abdulkarim menyebut aksi vandalisme yang dilakukan IS itu, "Merupakan kejahatan yang sejahat-jahatnya." Yang bisa dilakukan sekarang, lanjut Abdulkarim, "Ialah berbagi kesedihan ini."
Selamatkan Palmyra Palmyra telah dikuasai kelompok IS sejak Mei silam. Arch of Triumph merupakan salah satu situs ternama di Palmyra yang dikenal sebagai bride of the desert dan berada sekitar 210 km arah timur laut Damaskus, juga termasuk warisan dunia UNESCO. Palmyra mengalami kemakmuran setelah bersatu dengan Kekaisaran Romawi pada abad pertama. Awal September lalu, milisi IS juga telah menghancurkan Kuil Bel yang dulunya merupakan pusat kehidupan religi di kota kuno Palmyra.
IS juga telah meluluhlantakkan Kuil Baalshamin. Kelompok ekstremis itu pun mengeksekusi Khaled al-Assaad, ketua senior lembaga barang antik Palmyra, karena dia menolak memberi tahu lokasi artefak-artefak yang masih tersembunyi. Menurut Abdulkarim, Arch of Triumph tidak mengandung makna-makna religius. Kelompok milisi IS, kata dia, menghancurkan Arch of Triumph hanya didorong rasa dengki.
Abdulkarim juga menyebut kelompok milisi itu telah menanam bahan peledak di sejumlah bangunan lain di kota tua Palmyra. Itu, ucap Abdulkarim, merupakan bagian dari proses sistematis penghancuran reruntuhan bersejarah di Palmyra yang dilakukan IS. Abdulkarim menegaskan seluruh monumen di Palmyra bakal hancur jika komunitas internasional dan pasukan darat di Suriah tidak beraksi. "Menyelamatkan Palmyra ialah kebutuhan amat mendesak. Dunia harus mencari solusi untuk menyelamatkan Palmyra," ucapnya.