Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
RUSIA menolak hasil investigasi tim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pada Kamis (27/10) mengungkapkan tentara Suriah melakukan serangan dengan senjata kimia. Rusia juga menolak sanksi terhadap negara sekutu mereka itu.
"Kami meyakini tidak ada bukti untuk tindakan hukum yang dilakukan. Jelas itu tidak ada (serangan senjata kimia)," kata Duta Besar (Dubes) Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, setelah mengikuti pertemuan tertutup Dewan Keamanan (DK) PBB.
Panel bersama PBB untuk Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) menyimpulkan pasukan rezim Suriah melakukan tiga kali serangan gas klorin ke beberapa desa pada 2014 dan 2015.
Investigasi internasional terhadap pasukan yang pro-Presiden Bashar al-Assad itu pertama kali dilakukan. Sebelumnya, selama dua tahun, Al-Assad selalu membantah tentaranya melakukan serangan gas klorin ke wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak.
Kepada DK PBB, Churkin menegaskan hasil investigasi itu tidak cukup kuat untuk memberlakukan sanksi terhadap Pemerintah Suriah.
"Tidak substantif dengan kurang dukungan kesaksian yang memadai. Pertama, semua bukti sangat kontradiksi dan tidak meyakinkan. Fakta tidak jelas, tidak memiliki kekuatan mengikat secara hukum dan tidak dapat menjadi kesimpulan untuk mendukung pengambilan keputusan hukum," ujar Churkin dalam pidato di depan DK PBB.
Inggris-Prancis mendesak
Berbeda dengan negara sekutu Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis mendesak agar Suriah diberi sanksi. Dubes Prancis untuk PBB, Francois Delattre, mengatakan, sesuai dengan resolusi PBB, mereka yang bertanggung jawab telah menggunakan senjata kimia harus diberi sanksi. Penggunaan gas klorin sebagai senjata telah dilarang berdasarkan Konvensi Senjata Kimia.
"Harus ada pertanggungjawaban bagi setiap orang yang terlibat menggunakan senjata kimia di Suriah atau di wilayah mana pun," kata Dubes Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft.
Panel PBB menyimpulkan bom barel yang berisi klorin telah dijatuhkan beberapa helikopter milik pemerintah Suriah. Bom klorin itu dijatuhkan di Desa Qmenas, Talmenes, dan Sarmin di Provinsi Idlib, Suriah, yang dikuasai kelompok pemberontak.
Panel mengidentifikasi skuadron 253 dan 255 dari brigade helikopter ke-63 militer Suriah diketahui terbang dari pangkalan militer Hama dan Humaymin. Skuadron 628 yang berasal dari pangkalan udara di Humaymin juga diduga melakukan serangan bom barel yang mengandung klorin.
Sementara itu, Rusia membantah pihak mereka terlibat dalam serangan udara yang mengebom sebuah sekolah pada Rabu (26/10).
Serangan dengan target sebuah sekolah di Provinsi Idlib, Suriah, itu, menewaskan 36 orang, termasuk 6 guru dan 22 siswa.
"Federasi Rusia tidak melakukan apa pun dengan serangan tragedi yang mengerikan tersebut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova.
Zakharova mengatakan tuduhan tersebut merupakan sebuah kebohongan. Karena itu, menurutnya, Rusia akan segera melakukan investigasi. (AP/AFP/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved