Maduro Lawan Kudeta Parlementer

Haufan Hasyim Salengke
27/10/2016 05:05
Maduro Lawan Kudeta Parlementer
(AFP/JUAN BARRETO)

PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro menuding Majelis Nasional melancarkan 'kudeta parlementer'.

Pemimpin sosialis itu melancarkan perlawanan melalui pertemuan dengan Dewan Pertahanan Nasional Venezuela, kemarin.

"Kami tidak akan mengizinkan kudeta parlementer apa pun," kata Maduro kepada para pendukung di Caracas setelah kembali dari lawatan internasional.

Tudingan 'kudeta parlementer' itu terkait pemungutan suara di Majelis Nasional pada Selasa (25/10), untuk membuka jalan diadakannya pengadilan kriminal dan politik terhadap Maduro.

Tidak jelas apa dampak pemungutan suara itu.

Majelis Nasional yang dikuasai kubu oposisi menuduh Maduro 'menelantarkan tugasnya' serta 'bertanggung jawab secara politik dan kriminal' atas krisis yang membelenggu Venezuela.

Parlemen memanggil Maduro hadir di Majelis Nasional pada Selasa (31/10) depan untuk memberikan pertanggungjawaban atas tuduhan tersebut.

Di saat yang sama, pihak posisi pun menggelar aksi protes antipemerintah, kemarin.

Tuntutan legislatif untuk menggelar pengadilan itu merupakan lompatan terbaru dari kalangan oposisi yang marah atas gagalnya referendum.

Pihak berwenang, terutama Mahkamah Agung menghentikan upaya pelasanaan referendum guna melengserkan Maduro.

Pihak oposisi menilai keputusan itu sebagai serangan terhadap demokrasi karena pelaksanaan referendum dijamin oleh konstitusi Venezuela.

Meski demikian, Mahkamah Agung telah menetapkan bahwa keputusan Dewan Nasional tidak valid.

Pada Senin (24/10), pemimpin oposisi menolak usulan yang ditawarkan pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Franciskus, yang mememinta Venezuela melakukan dialog nasional untuk mengurai krisis.

Potensi kerusuhan

Tawaran dialog nasional dari Paus Franciskus untuk membahas krisis di Venezuela akhirnya ditolak kubu oposisi pada Senin (24/10).

Tawaran itu menimbulkan perpecahan mendalam di tubuh oposisi. Maduro mendesak mereka menyetujui diadakannya dialog.

Krisis kian parah dan memicu protes serta penjarahan oleh warga yang kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar.

Maduro menuding krisis ekonomi disebabkan konspirasi kapitalis, terutama persekongkolan oposisi dengan sayap kanan internasional, termasuk Amerika Serikat.

Tokoh oposisi Henrique Capriles menuduh Maduro menggunakan perbuatan baik Paus untuk tujuan atau kepentingannya sendiri.

"Yang perlu Anda ketahui bahwa warga Venezuela sedang berjuang melawan setan. Inilah iblis yang kita hadapi. Mereka tidak memiliki prinsip," ujarnya.

Para analis politik skeptis terhadap prospek dialog tersebut.

"Bahkan jika Paus Franciskus datang ke sini berpakaian seperti Superman, dialog tidak akan menyelesaikan masalah Venezuela," kata ilmuwan politik, Nicmer Evans.

Analis juga memperingatkan risiko kerusuhan seperti bentrokan dalam protes antipemerintah pada 2014 yang menyebabkan 43 orang tewas.

Pada Senin, bentrokan antara polisi dengan mahasiswa yang menggelar aksi protes di Kota San Cristobal menyebabkan 27 orang terluka.

(AFP/Aljazeera/Hym/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya